Jakarta/Zonasatu - Indonesia tercatat sebagai negara pengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ketujuh terbesar di dunia. Di tahun 2018 ini sudah ada sebanyak 2.823 prajurit yang dikirm untuk menjaga perdamaian di beberapa misi di dunia.
Hal tersebut dikatakan Penasehat Militer Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Brigadir Jenderal TNI Fulad, S.Sos, M.Si saat diwawancarai oleh beberapa media setempat.
"Tujuan pengiriman prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB adalah dalam rangka turut serta melaksanakan, menjaga ketertiban dunia yang adil dan beradab,"kata Brigjen Fulad seperti dikutip rilis dari Puspen TNI, Kamis (19/7/2018)
Pasukan TNI yang bertugas dibawah naungan PBB ini tergabung dalam beberapa Satuan Tugas (Satgas) seperti Minusca (Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Central Africa Republic)-di Republik Afrika Tengah, Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon)-Lebanon, Monusco (Mission de LOrganisation des Nations Unies pour La Stabilisation en Republique Democratique du Congo)– DR. Kongo, Unamid (United Nations Mission In Darfur)- Sudan, dan beberapa Satgas di negara lainnya yang masih terlibat konflik.
Menurut alumni Akademi Militer 1990 ini, konflik itu bisa terjadi antar negara maupun internal negara, karena perbedaan politik antar partai yang berkuasa dengan pemerintah atau lainnya.
“Ini semua membutuhkan proses dialog antara pemerintah, rakyat, dan pemimpin agar terjadi kesamaan visi,” katanya
Mantan Danrem 061/Surya Kencana, Bogor ini menyatakan, dengan adanya pasukan perdamaian yang tentunya juga dari Indonesia, mereka membantu untuk melakukan negosiasi atau sebagai penengah. Jika sudah tercipta ketertiban, maka PBB tentunya ingin agar kesejahteraan, kemakmuran, dan rasa aman bisa terwujud.
“Begitu terjadi aman, maka kegiatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat berjalan dengan normal, termasuk komunikasi antara rakyat, pemimpin dan pemerintah setempat,” ujar pria yang dalam karir militernya dibesarkan di pasukan 'Baret Merah' Kopassus ini.
Pria yang juga pernham menjadi Ajudan Presiden RI ini menngemukakan bahwa negara-negara yang mengirimkan tentara dan polisi yang tergabung dalam Pasukan PBB, adalah untuk membantu menyelesaikan konflik. Dia menyebutkan,
“Indonesia sampai dengan saat ini telah mengirimkan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB sejumlah 2.823 prajurit atau nomor 7 (tujuh) terbesar di dunia yang tersebar di beberapa misi di dunia,” tuturnya
Dirinya mencontohkan, Pasukan Garuda TNI yang dikirim ke Misi di DR Kongo, karena prajurit TNI mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pertempuran di hutan, walaupun di sana bukan bertempur. Tetapi, bagaimana kemampuan untuk beradaptasi di medan tropis mengingat Kongo dan Indonesia sama-sama negara yang menganut iklim tropis, sehingga kemampuan bergerak di hutan adalah menjadi suatu prasyarat mutlak prajurit.
Di Misi Unifil Lebanon, sampai dengan saat ini Kontingen Indonesia merupakan Kontingen terbesar dan Pemerintah Lebanon sangat mengapresiasi Kontingen Indonesia karena diterima oleh rakyat Lebanon. Komunikasi dan interaksi Prajurit TNI dengan warga setempat pun diterima oleh rakyat Lebanon, termasuk kontingen negara lainnya dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pria kelahiran Kebumen, , 11 Januari 1967 ini mengharapkan agar Indonesia semakin dikenal di dunia, dan pasukan Indonesia semakin disegani dan dikenal dikancah internasional. “Dengan kita mengirimkan pasukan misi PBB, maka otomatis kontribusi itu akan dilihat,” katanya.
“Selaku Penasehat Militer Perwakilan Tetap Republik Indonesia New York, mimpi besar saya adalah misi 4.000 personel bisa tercapai pada tahun 2019. Dengan kita mengirim pasukan yang besar, akan memberikan peluang yang semakin terbuka bagi prajurit-prajurit TNI untuk berkiprah pada perdamaian internasional,” kata mantan Komandan Yonif 116/Garda Samudra, Kodam Iskandar Muda ini mengakhiri.
Penulis : Noor Irawan
Sumber : -
Hal tersebut dikatakan Penasehat Militer Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Brigadir Jenderal TNI Fulad, S.Sos, M.Si saat diwawancarai oleh beberapa media setempat.
"Tujuan pengiriman prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB adalah dalam rangka turut serta melaksanakan, menjaga ketertiban dunia yang adil dan beradab,"kata Brigjen Fulad seperti dikutip rilis dari Puspen TNI, Kamis (19/7/2018)
Pasukan TNI yang bertugas dibawah naungan PBB ini tergabung dalam beberapa Satuan Tugas (Satgas) seperti Minusca (Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Central Africa Republic)-di Republik Afrika Tengah, Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon)-Lebanon, Monusco (Mission de LOrganisation des Nations Unies pour La Stabilisation en Republique Democratique du Congo)– DR. Kongo, Unamid (United Nations Mission In Darfur)- Sudan, dan beberapa Satgas di negara lainnya yang masih terlibat konflik.
Menurut alumni Akademi Militer 1990 ini, konflik itu bisa terjadi antar negara maupun internal negara, karena perbedaan politik antar partai yang berkuasa dengan pemerintah atau lainnya.
“Ini semua membutuhkan proses dialog antara pemerintah, rakyat, dan pemimpin agar terjadi kesamaan visi,” katanya
Mantan Danrem 061/Surya Kencana, Bogor ini menyatakan, dengan adanya pasukan perdamaian yang tentunya juga dari Indonesia, mereka membantu untuk melakukan negosiasi atau sebagai penengah. Jika sudah tercipta ketertiban, maka PBB tentunya ingin agar kesejahteraan, kemakmuran, dan rasa aman bisa terwujud.
“Begitu terjadi aman, maka kegiatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat berjalan dengan normal, termasuk komunikasi antara rakyat, pemimpin dan pemerintah setempat,” ujar pria yang dalam karir militernya dibesarkan di pasukan 'Baret Merah' Kopassus ini.
Pria yang juga pernham menjadi Ajudan Presiden RI ini menngemukakan bahwa negara-negara yang mengirimkan tentara dan polisi yang tergabung dalam Pasukan PBB, adalah untuk membantu menyelesaikan konflik. Dia menyebutkan,
“Indonesia sampai dengan saat ini telah mengirimkan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB sejumlah 2.823 prajurit atau nomor 7 (tujuh) terbesar di dunia yang tersebar di beberapa misi di dunia,” tuturnya
Dirinya mencontohkan, Pasukan Garuda TNI yang dikirim ke Misi di DR Kongo, karena prajurit TNI mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pertempuran di hutan, walaupun di sana bukan bertempur. Tetapi, bagaimana kemampuan untuk beradaptasi di medan tropis mengingat Kongo dan Indonesia sama-sama negara yang menganut iklim tropis, sehingga kemampuan bergerak di hutan adalah menjadi suatu prasyarat mutlak prajurit.
Di Misi Unifil Lebanon, sampai dengan saat ini Kontingen Indonesia merupakan Kontingen terbesar dan Pemerintah Lebanon sangat mengapresiasi Kontingen Indonesia karena diterima oleh rakyat Lebanon. Komunikasi dan interaksi Prajurit TNI dengan warga setempat pun diterima oleh rakyat Lebanon, termasuk kontingen negara lainnya dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pria kelahiran Kebumen, , 11 Januari 1967 ini mengharapkan agar Indonesia semakin dikenal di dunia, dan pasukan Indonesia semakin disegani dan dikenal dikancah internasional. “Dengan kita mengirimkan pasukan misi PBB, maka otomatis kontribusi itu akan dilihat,” katanya.
“Selaku Penasehat Militer Perwakilan Tetap Republik Indonesia New York, mimpi besar saya adalah misi 4.000 personel bisa tercapai pada tahun 2019. Dengan kita mengirim pasukan yang besar, akan memberikan peluang yang semakin terbuka bagi prajurit-prajurit TNI untuk berkiprah pada perdamaian internasional,” kata mantan Komandan Yonif 116/Garda Samudra, Kodam Iskandar Muda ini mengakhiri.
Penulis : Noor Irawan
Sumber : -



No comments:
Post a Comment