Jakarta, ZONASATU - Guru
Besar Universitas Islam Negeri
(UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Yusny Saby, MA, Ph.D, mengatakan bahwa kearifan lokal yang dimiliki bangsa
Indonesia di berbagai daerah sangat penting untuk mendeteksi ancaman
radikalisme dan terorisme. Tak hanya itu, kearifan loal juga dapat digunakan
sebagai wadah untuk merajut kembali persatuan bangsa pasca Pemilihan Presiden
(Pilpres) lalu.
“Kearifan lokal
itu begini, ada suatu ungkapan bahasa Aceh ‘Leumo bloh paya, kuda cot iku. Gob
meuseunoh kuasa, tanyoe nyang karu Artinya,
sapi yang masuk ke lumpur, kuda yang terkejut. Orang lain yang berebut
jabatan/kekuasaan, malah kita yang ribut. Ini urusan politik sudah selesai. Politik
ini jangan menjadikan kita menjadi kebingungan atau kesusahan atau tergoncang
karena urusan urusan orang lain. Politik urusan politik. Demikian juga di
bisnis ya bisnis juga seperti itu,” ujar Prof. DR. H. Yusny Saby, MA, Ph.D, di Jakarta, Jumat (19/7/2019).
Lebih lanjut
Yusny mengungkapkan, yang terpenting dari kearifan lokal itu, dengan ungkapan
itu supaya masing-masing orang itu untuk melaksanakan urusannya sendiri-sendiri. Janganlah
kita melakukan sesuatu itu melebihi dari apa yang sebenarnya sudah kita miliki.
Hal ini sebagai upaya untuk membuat orang lain merasa damai dan nyaman dalam
melakukan aktifitasnya.
“Janganlah kita
melebihi langkah-langkah kita. Telapak kaki kita itu seberapa besarnya,
demikian juga dengan duduk, berapa lebar yang dibutuhkan. Sehingga dengan
demikian itu akan ada kedamaian, keamanan dan tidak membuat orang-orang lain
itu merasa terancam dengan cara kita dalam melakukan sesuatu,” kata pria yang
juga pernah menjadi rektor
UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.
Untuk itu
dirinya meminta kepada semua pihak dalam melaksanakan kehidupan sehari-harinya
diharapkan bisa sesuai dengan aturan ikutlah ketentuan. “Itulah yang dimaksud
dengan adat istiadat dan sistem yang sudah berlaku sesuai apa yang sudah
digariskan. Itulah yang harus dipahami masyarakat,” ujarnya
Lebih lanjut
dirinya memberikan gambaran tentang kearifan lokal sebagai deteksi dini dalam
mengantisipasi paham radikal atau hal-hal lain yang dapat menggangu persatuan
di suatu lingkungan masyarakat. Yakni, ketika ada sedikit perbuatan negatif
yang dilakukan oleh sesorang atau kelompok, maka harus ada orang-orang bijak
yang dapat memahami suasana di lingkungan tersebut dalam mengambil keputusan dengan tepat baik secara
langsung maupun tidak langsung tanpa memihak.
“Ini yang
tentunya sangat penting sekali. Untuk itu kita harus selalu berkomunikasi
dengan orang-orang bijak yang dapat memahami terhadap suasana itu, karena
dialah yang lebih paham, karena tidak semua orang itu paham terhadapsuatu
masalah,” tutur pria yang juga mantan Ketua Forum Koordinasi Pancegahan
Terorisme (FKPT) Provinsi Aceh ini.
Dirinya
memberikan filosofi misalnya ada guncangan daun di pohon. Yang mana sebagian
orang sudah mengetahui bawa itu dilakukan burung kecil atau burung besar atau burung
jinak dan sebagainya. Demikian juga ketika ada orang senyum atau orang ketawa.
Yang mana nampak ketawa terus atau senyum yang biasa-biasa saja.
“Tetapi bagi
orang bijak itu dapat memahami bawa itu bukanlah ketawa orang yang bahagia,
tetapi itu adalah ketawa duka cita, ketawa sinis dan sebagainya. Disinilah yang
dimaksud dengan kearifan lokal secara bijak” kata Yusny
Oleh karena itu menurutnya,
sebenarnya setiap kondisi itu bisa dibaca atau dirasakan oleh semua orang.
Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membaca situasi secara mendalam
demi menjaga persatuan.
“Dan orang-orang
inilah yang seharusnya perlu kita bekali, kita lindungi, kita jaga dan kita
beri motivasi agar beliau-beliau itu bisa berfungsi di lingkungan masyarakat
yang memahami lingkungan sekitarnya. Seperti orang memberi obat itu ada di
mana-mana, tapi ketika orang itu tidak dimanfaatkan maka bisa hilang saja dan
sebagainya,” ucapnya.
Untuk itu
dirinya mengatakan bahwa dari masyarakat sebenarnya banyak hal yang dapat dipetik
dari praktek kearifan lokal yang ada di daerahnya. Sekarang ini yang lebih
penting mereka itu dapat mengadakan kegiatan-kegiatan bersama. Apalagi selama
ini pemerintah telah mengucurkan dana desa, yang mana dana desa itu harus dikoordinir
bersama untuk menghambat masuknya tenaga kerja dari luar desa ke dalam desa
tersebut.
“Tentunya harus
bisa memberdayakan tenaga yang ada di dalam desa itu sendiri dengan modal yang
ada itu supaya ada ketenangan maupun ketentraman. Jadi harus dihidupkan kembali
usaha kegiatan ekonomi bersama, tidak lagi sekedar pribadi-pribadi. Karena
modal itu didanai oleh pemerintah. Itu yang pertama,” ujarnya
Lalu yang kedua
menuurtnya yakni harus ada ceramah, pendidikan dan pengajaran agama, khususnya
kepada anak sampai orang dewasa.. Yang mana pada umumnya
kegiatan seperti itu dapat membawa ketenangan.
“Ini sengaja diadakan
untuk mengingatkan kepada masyarakat sebagai kegiatan masyarakat bahwa kita itu
harus saling damai dan selalu mendamaikan. Dan harus ditunjukkan pula bahwa Islam
itu mengajarkan damai dan sebagainya,” kata pria yang saat ini menjadi
penasehet pengurus FKPT Aceh ini..
Diakuinya bahwa
secara menyelusuh sebenanrya kegiatan keagamaan seperti itu tidaklah kurang.
Namun yang menjadi masalah selama ini adalah contoh keteladanan dari para
tokoh-tokoh yang sangat kurang, sehingga hal itulah yang dapat menimbulkan
kerentanan atau gesekan di masyarakat.
“Keteladanan
tokoh politik, dan bahkan termasuk tokoh agama kadang-kadang kurang memberi teladan yang baik, teladan yang
mengikat, teladan yang mengesankan kebaikan, kemaslahatan, kedamaian kepada
masyarakat,” ucapnya.
Karena hal-hal
yang telah ditunjukkan tokoh juga akan berpengaruh juga terhadap kearifan lokal.
Yusni pun memberikan filosofinya, busuknya ikan itu ada di kepala. Kalau di
kepala rusuh atau rusak, maka jangan harap di badan ikan itu bisa baik. Tapi
kalau kepala ikan itu baik, maka seluruh badan ikan itu juga baik
“Jadi
filosofinya sebenarnya juga ada di tokoh-tokoh itu sendiri. Dalam pepatah Aceh
dikatakan rusaknya pohon dadap itu karena ada sejenis kumbang. Yang mana
diartikan disini rusaknya anak-anak itu karena orang dewasa atau orang-orang
yang senior ini,” ujar Peneliti
di Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini.
Untuk itu
menurutnya, dalam membangkitkan kearifan lokal demi menjaga persatuan bangsa para
tokoh-tokoh harus bisa berbuat bijak, tidak
saling menghujat, mengkritik, apalagi jika berkaitan dengan agama. Karena
terkadang dirinya melihat tokoh-tokoh agama itu mengeluarkan pernyataan yang
berkaitan dengan agama yang tentunya dapat meretakkan persatuan yang dapat
dimanfaatkan untuk disusupi paham radkal terorisme oleh kelompok lain
“Disinilah yang
kadang-kadang menimbulkan ketidak harmonisan di antara para pengikut. Ketika
para tokoh-tokoh itu berbeda ke pemahamannya, lalu kemudian perbedaannya itu
diungkapkan ke muka umum maka pengikut-pengikut yang ada di bawah akan
mengikutinya. Karena dengan keteladanan dari para tokoh inilah sebenarnya sebagai
benteng utama dalam menagkal paham radikal,” ujanya mengakhiri.
| Editor | : Adri Irianto |
| Foto | : - |
| Sumber | : - |



No comments:
Post a Comment