Jakarta, ZONASATU - Penyebaran paham radikal terorisme semakin
hari semakin mengkhawatirkan, hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan aksi
kekerasan dan tindak terorisme di tanah air.
Yang terakhir, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto mengalami penusukan oleh seorang terduga teroris di Pandeglang, Banten yang diduga telah terpapar paham radikal dari jaringan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS).
Yang terakhir, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto mengalami penusukan oleh seorang terduga teroris di Pandeglang, Banten yang diduga telah terpapar paham radikal dari jaringan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syriah (ISIS).
Di tengah sentiment
primordial yang semakin tinggi, radikalisme mudah subur dan menjangkiti
siapapun. Benih-benih
ini jika dibiarkan tumbuh tentunya akan menjadi bom waktu munculnya
aksi kekerasan dan terorisme. Untuk itulah, mencegah terorisme harus dimulai
dengan melawan radikalisme dari hulu masalahnya. Butuh upaya serius tidak hanya
kebijakan parsial dan reaktif, tetapi kebijakan yang mampu menyentuh akar
radikalisme di Indonesia.
Pengamat Intelijen
dan Terorisme, Dr. Wawan Hari Purwanto, SH, MH, mengatakan bahwa masyarakat harus selalu terus untuk diingatkan agar mereka ini memiliki kepekaan untuk bisa mencegah dan melakukan deteksi dini terhadap tumbuhnya paham-paham tersebut yang ada di tengah-tengah masyarakat.
“Karena
teroris itu kan berbaur di tengah masyarakat, jadi sikap kritis perlu ditumbuhkan
agar masyarakat tidak menelan mentah informasi perlu tabayyun dulu. Karena
sikap taklid tanpa cross-check bisa
membuat mereka percaya membabi buta. Ini yang harus diluruskan dengan dialog dan kajian serta komunikasi antara
pejabat/tokoh serta ulama dengan masyarakat agar terhindar terjadinya
miskomunikasi” ujar Wawan di Jakarta, Sabtu (19/10/2019).
Pria yang juga
Pendiri sekaligus Peneliti di Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional
(LPKN) ini mengatakan bahwa, pemerintah tentunya juga perlu terus melakukan komunikasi dengan masyarakat dengan memperbanyak program terkait deradikalisasi dan lainnya untuk
membangun kesadaran publik akan bahayanya paham radikal terorisme tersebut.
“Pemerintah
harus dekat dengan rakyat, termasuk pemerintah daerah. Harus ada program kerja
yang menyentuh kekosongan baik kekosongan isi kepala, isi hati dan isi perut
secara linier dapat diupayakan secara simultan. Jangan sampai mereka
beranggapan bahwa mereka didekati hanya saat diperlukan saja,” tuturnya.
Pria kelahiran
Kudus, 10 November 1965 ini berpendapat bahwa selama ini masyarakat bersikap acuh tak acuh
dengan kondisi di lingkungan sekitarnya dikarenakan mereka ini belum terkena dampak dari aksi terorisme tersebut secara langsung. Sehingga perlu adanya upaya untuk membangun kesadaran masyarakat ini.
“Jika mereka terkena langsung biasanya lantas
baru tersadar akan perlunya deteksi dini dan cegah dini. Kita perlu berikan
pemahaman secara berkelanjutan dan kita ajak bicara terus agar mereka punya
rasa simpati, empati dan partisipasi dalam penanggulangan terorisme,” kata
Wawan.
Dalam kesempatan
tersebut pria yang juga pernah menjadi staf ahli Wakil Presiden RI bidang
Keamanan dan Kewilayahan ini menyampaikan bahwa masyarakat harus terus
diajak,
dilibatkan dan diminta masukannya terikait masalah penyebaran paham radikal
terorisme di tanah air.
“Masyarakat
tentunya perlu diajak untuk berperan aktif dan diajak berpikir bagaimana jika
tiba-tiba terjadi ledakan seperti di Sibolga, dimana rumah di sekitarnya luluh
lantak rata dengan tanah. Inilah perlunya peran aktif dan kepedulian dari
masyarakat dan pemerintah,” ungkapnya.
Selain itu peraih gelar Magister Hukum bidang Hukum Perbankan
dari Universitas Indonesia ini juga menambahkan bahwa agar aparat keamanan perlu juga dilibarkan untuk berperan aktif untuk mengajak dan memberdayakan masyarakat dalam
membendung paham radikal terorisme tersebut.
“Babinsa
dan Babinkamtibmas hingga RT, RW harus terus aktif
berkomunikasi dengan warga dan masyarakat. Ajak dan beri pengertian kepada
masyarakat untuk segera melaporkan jika ada hal-hal yang mencurigakan di
sekitarnya. Selanjutnya ditindaklanjuti sesuai SOP agar tidak ada kelambatan.
Jika ditemukan ada ajaran yang menyimpang maka segera diambil sikap sebelum
terlambat,” ujar Wawan mengakhiri.
| Editor | : Adri Irianto |
| Foto | : - |
| Sumber | : - |



No comments:
Post a Comment