Kekuatan udara
Indonesia dalam beberapa waktu ke depan akan segera menerima sejumlah
helikopter EC725 Cougar buatan Airbus Helicopters. Langkah kekuatan udara
negeri ini semestinya segera diikuti dengan langkah serupa oleh kekuatan udara
Angkatan Laut Indonesia.
Menilik kebutuhan
operasi ke depan, kekuatan udara Angkatan Laut negeri ini sudah harus memiliki
helikopter EC725 Cougar guna mendukung perannya. Mengapa pesawat sayap putar
produksi Airbus Helicopters itu dibutuhkan oleh Penerbangan Angkatan Laut?
Salah satu tugas
Penerbangan Angkatan Laut adalah mendukung terlaksananya operasi amfibi melalui
GKK (Gerakan Kapal Ke pantai) Lintas Heli. Agar GKK Lintas Heli dapat memuat
kekuatan dalam jumlah satu peleton per sorti setiap helikopter, suatu kemampuan
yang tak dimiliki saat ini, diperlukan helikopter dengan daya muat yang cukup
besar.
Pilihan untuk itu
adalah helikopter EC725 Cougar atau yang sekelasnya. Kalau mengandalkan pilihan
pada helikopter NBell-412 lisensi PT Dirgantara Indonesia, kekuatan yang dapat
diangkut oleh pesawat sayap putar hanya kurang dari satu regu.
Kesempatan
pengadaan helikopter angkut buatan Airbus tersebut pada tahun-tahun ke depan
terbuka lebar karena pesawat sayap putar NBO-105 yang dulu diproduksi oleh PT
IPTN akan segera pensiun.
Akan sangat baik
bila penggantinya adalah EC725 Cougar, selain karena pertimbangan yang telah
disebutkan sebelumnya, pula karena kekuatan laut Indonesia memiliki empat LPD
yang mampu menjadi pangkalan sementara bagi helikopter penerus AS332 Super Puma
itu.
Di samping itu,
antara Airbus Defense & Security sebagai induk dari Airbus Helicopters juga
memiliki kerjasama dan kemitraan yang kuat dengan PT Dirgantara Indonesia.
Selain China,
Indonesia juga ditebengi oleh negara lain untuk membantu mengeluarkan warganya
dari Yaman. Total ada empat negara yang meminta tolong yakni India, Sri Lanka,
Singapura, dan Filipina.
Direktur
Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI,
Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan pemerintah tetap memprioritaskan WNI, agar bisa
masuk ke dalam kapal yang telah disewa Indonesia dari Djibouti.
Serangan udara
Arab Saudi kian digencarkan ketik menghadapi kelompok pemberontak al Houthi.
Tim koalisi yang dipimpin Arab Saudi, bahkan pada Kamis kemarin menyebut
bantuan berupa alutsista dijatuhkan dari udara oleh militer tersebut, agar
diambil oleh pasukan yang loyalis terhadap Presiden Yaman.
Sementara itu,
Arab Saudi yang memulai serangan udara pada 25 Maret lalu, menyebut hingga kini
belum berencana untuk mengerahkan pasukan darat. Mereka menyebut tujuan dari
serangan itu untuk melindungi pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.(DTT)



No comments:
Post a Comment