![]() |
| Massa Jatim menolak Jokowi minta maaf pada PKI yang sudah bersalah |
Jakarta
(Zonasatu.co.id) – Terkait adanya rencana pemerintah yang ingin meminta
maaf pada keluarga 65 (PKI) lewat upaya rekonsiliasi memaksaa Aktivis Aliansi
Anti Komunis (AAK) Mohammad Naufal Dunggio ikutan bersuara.
Menurutnya, rencana Jokowi tersebut terbilang tidak masuk
akal mengingat yang jadi korban pembantaian sebenarnya adalah umat muslim
bukannya PKI.
“...Orang-orang PKI menganggap dirinya sebagai korban,
padahal umat Islam lah yang menjadi korban kekejian PKI.” Kata Naufal yang
dilansir dari media Islampos usai diskusi public CDCC di Menteng, Jakarta, Jum’at
(14/8).
Selain itu Naufal juga mewaspadai akan adanya manuver
lanjutan dari orang – orang yang dicap PKI setelah mendapatkan permintaan maaf
dari Jokowi yaitu dicabutnya Tap MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Partai Komunis
Indonesia (PKI).
“Mudah terbaca, arah dari permintaan maaf kepada PKI ini
adalah pencabutan Tap MPRS No XXV/1966 tentang Larangan Partai Komunis
Indonesia (PKI)” Lanjutnya lagi.
Sebelumnya, Kamis (13/8), beberapa elemen massa se-Jawa
Timur menggelar aksi di depan Gedung Grahadi Surabaya untuk menolak pencabutan
Tap MPRS No XXV/1966 tentang Larangan Partai Komunis Indonesia (PKI). Selain
orasi, massa juga membakar bendera Palu Arit warna merah.
Menurut demonstran, permintaan maaf, berakibat pada;
semua produk hukum tentang larangan PKI dan ajarannya yang tertuang dalam Tap
MPRS Nomor XXV/1966, Supersemar, Undang-Undang No 27/1999 tentang perubahan
KUHP yang berhubungan dengan keamanan negara Pasal 107 huruf (a), dengan
sendirinya batal. (TW)


