![]() |
| Paska perang Irak tidak sedikit prajurit AS mengalami luka fisik dan mental |
AS (Zonasatu.co.id) - Seorang pejabat Pentagon atau Departemen Pertahanan
Amerika Serikat (AS) menyuarakan ketakutannya jika perang dengan Rusia pecah.
Sebab, Pentagon merasa tidak siap seperti yang diinginkan.
Pejabat Pentagon itu mengatakan, militer AS selama 15
tahun terakhir sibuk dengan perang kontra terorisme. Perang itu telah
melelahkan pasukan darat AS dan menguras logostik. Sedangkan Rusia terus
meningkatkan kemampuan militernya untuk terus beramanuver terhadap
sekutu-sekutu NATO.
Dua pejabat Pentagon mengungkapkan kecemasan mereka
kepada media AS, The Daily Beast, dalam kondisi anonim karena isu itu sensitif.
”Mungkinkan kita bisa mengalahkan Rusia hari ini (dalam pertempuran
berkelanjutan)? Tentu, tapi itu akan mengambil semua yang kami miliki,” kata
salah satu pejabat Pentagon, Jumat (14/8/2015). ”Apa yang kami katakan adalah
bahwa kita tidak siap seperti yang kita inginkan,” lanjut dia.
“Perang (di Irak dan Afghanistan) telah menguras
kemampuan kami,” imbuh pejabat kedua Pentagon. Sedangkan saat ini, Pentagon
masih disibukkan perang melawan ISIS dan kelompok teror lainnya di Timur
Tengah. Kemampuan militer AS selama ini dikuras untuk melatih tentara Irak dan
oposisi moderat Suriah yang sampai sekarang belum bisa mengalahkan ISIS.
Sebelum kekhawatiran para pejabat Pentagon terhadap
perang melawan Rusia itu muncul, para petinggi militer selama beberapa pekan
ini terus menyuarakan Rusia sebagai ancaman paling berbahaya bagi AS. Sedangkan
Rusia enggan merespons penyataan para petinggi militer AS itu.
Militer AS mengakui bahwa Kremlin memiliki sekitar 4.000
senjata nuklir dan anggaran militer Rusia merupakan yang terbesar ketiga di dunia.
Sementara itu, seorang pejabat intelijen AS kepada The Daily Beast,
mengeceilkan potensi perang melawan Rusia.
”Sebuah perang antara Rusia dan NATO adalah skenario yang
tidak mungkin, mengingat dampak yang parah akan dihadapi Rusia. Selain reaksi
luar biasa, penuaan peralatan militer Rusia dan kemampuan logistik yang
bermasalah menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka,” ujarnya yang menolak
diidentifikasi.
“Singkatnya, konflik langsung dengan Rusia adalah
probabilitas yang rendah, situasi seperti itu berisiko tinggi,” lanjut dia. (SRK/Sindonews)


