Itulah berita
yang santer terdengar dan terbaca. Yang dimaksud dengan PKI tentulah KGB
(Komunis Gaya Baru), reinkarnasi PKI yang sudah 49 tahun masuk kubur. Ini
dibantah karena katanya ketika ditanyakan langsung, Presiden Joko Widodo
mengatakan tidak.
Ini diiyakan
karena ada headline menyebutnya menjadi syarat bantuan penanaman modal Cina di
Indonesia. Melalui alasan ini-itu, wacana ini bergeraklah bolak-balik secara
tidak jelas antara tidak dan ya.
Taktik KGB
menutupi dosa besar PKI yang berhasil sekali adalah penerapan taktik
"ujug-ujug" sejak masa Reformasi. Istilah berasal dari bahasa Jawa
ini maknanya "tiba-tiba". Tiba-tiba di bulan
Oktober-November-Desember 1965 dan seterusnya mereka tiba-tiba dikejar-kejar
dan dizalimi. Tiba-tiba mereka ditangkapi dan dibunuhi. Hukum sebab dan akibat
tidak dipakai. Yang dipakai dan disebut selalu akibat. Faktor sebab tidak
disebut sama sekali. Ini taktik licin sekali.
Faktor sebab
pertama yang selalu diingkari dan dilupa-lupakan KGB adalah pengkhianatan PKI
terhadap revolusi Indonesia, yaitu pengumuman Proklamasi Republik Sovyet
Indonesia di Madiun pada 18 September 1948 oleh Moeso (51 tahun, gagal berontak
1926, lari ke Moskow 21 tahun), yang disusul dengan penyembelihan kiai, santri,
dan pamong praja di Blumbang, lubang besar yang sudah siap digali di luar Kota
Madiun.
Masaker ini
berlanjut ke Soco, Cigrok, Gorang Gareng, Tanjung, Magetan, Takeran, Rejosari
(pabrik gula), Bangsri, Dukuh Sedran, Geni Langit, Lembah Parang, Nglopang,
Dungus, Kresek, Mangkujayan, Batokan, Jeblok, Randu Blatung, Blora, Pati,
Wirosari, Donomulyo, Tirtomoyo. Luar biasa pembantaian yang dilakukan PKI ini.
Tidak tercatat
lagi berapa PKI menjagal rakyat anti-komunis di desa-desa dan kota-kota itu,
tapi jumlahnya besar (Lubang Lubang Pembantaian—Petualangan PKI di Madiun, Tim
Jawa Pos: Maksum, Agus Sunyoto, A Zainuddin, Grafiti, 1990).
Di samping lubang
pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di
sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu. Karena
repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang
tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi Kiai Imam Sofwan
dari Pesantren Kebonsari tidak tertolong.
![]() |
| Korban kekejaman komunis |
Pesantren-pesantren
menjadi sasaran utama PKI, karena itulah komunitas yang anti-Marxis-Leninis,
yaitu Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan
Immadul Falah. Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati
Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu, algojo
menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.
Dubur warga desa
di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri
di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi.
Salah seorang di antaranya, wanita, ditusuk (maaf, TI) kemaluannya sampai
tembus ke perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.
Seorang ibu,
Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana,
sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun. Dia nekat minta melihat
jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan
malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya
itu menyaksikan pembunuhan ibunya. Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya
itu.
Yel-yel PKI di
Madiun dalam gerakan Republik Sovyet tersebut. "Pondok bobrok, pondok
bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati!" yang
disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman.
Bagaimana kok PKI
menjadi begitu kejam? Dari mana PKI mencontoh kekejaman-kekejaman itu? Moeso,
proklamator Republik Sovyet Indonesia 1948 itu, mengimpornya ke Madiun dari
Moskow, tempat dia melarikan diri 21 tahun lamanya. Sepanjang 1927-1948, dia di
Moskow, mentornya Stalin di pedalaman Rusia membantai petani kulak 6 juta
orang, belum terhitung penduduk sipil, dan contoh kebrutalan itu ditiru dan
dilaksanakannya di wilayah Madiun.
Kalau Presiden
akan minta maaf kepada KGB karena PKI dibantai sesudah Oktober di tahun 1965,
maka KGB harus lebih dulu minta maaf kepada umat non-komunis yang dibantai PKI
pimpinan Moeso di Madiun dan sekitarnya, pada kuartal terakhir 1948.
Pembantaian oleh anak buah Moeso di Madiun, Oktober-Desember 1948 terhadap umat
anti-PKI ini selalu dilupa-lupakan oleh Komunis Gaya Baru.
Faktor sebab
kedua (yang juga selalu dilupa-lupakan) adalah teror PKI (yang merupakan
test-case, uji coba) menjelang Gestapu pada 1964-1965 di berbagai tempat di
Indonesia. Untuk mengukur kekuatan sebelum merebut kekuasaan, PKI memprovokasi
umat Islam dengan berbagai cara. Sesudah 1959 ketika konsep Demokrasi Terpimpin
dilaksanakan dengan dalil poros Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), PKI
mendapat angin buritan yang sangat menguntungkannya.
Berturut-turut
(1964-1965) berlangsunglah 11 kasus teror terhadap rakyat non-komunis dalam
bentuk: pembubaran Masjumi dan PSI, dua partai anti-PKI; penahanan tokoh-tokoh
anti-PKI, yang tak pernah diadili; pembreidelan koran anti-komunis, yaitu
Indonesia Raya, Pedoman, Abadi; teror Bandar Betsy (Sumatra Utara); teror
Kanigoro (Jawa Timur); pelarangan buku; pemburukan nama dan karakter di bidang
seni budaya; pementasan Matine Gusti Allah, Sunate Malaikat Jibril, Rabine
Allah; pembakaran buku; serangan terhadap umat anti-komunis di pers Ibu Kota
oleh Bintang Timur dan Harian Rakyat; kemudian puncaknya adalah pembantaian
enam jenderal TNI, 30 September 1965.
Tibalah tensi di
puncaknya. Kudeta direncanakan 1 Oktober 1965 oleh Dewan Revolusi, didahului
oleh penculikan dan pembantaian tujuh jenderal anti-komunis 30 September 1965
(berhasil 6, gagal 1). Kegagalan menghabisi Jenderal Nasution membuat rencana
kudeta Biro Khusus PKI berantakan. Penanggung jawab kudeta, ketua DN Aidit
dengan gugup terbang ke Yogyakarta, akan melarikan diri dengan kapal selam di
Laut Selatan, tapi tertangkap di Yogyakarta dan ditembak mati.
Berita tentang
kebiadaban PKI yang membantai enam jenderal yang berjasa besar dalam Revolusi
1945 dengan cara pengecut itu membangkitkan amarah rakyat. Sifat khianat PKI di
Madiun 17 tahun yang lalu berulang lagi dalam bentuk lain. Kalau ini dibiarkan,
sejalan dengan cara partai komunis di 24 negara lain, PKI akan besar-besaran
membantai rakyat anti-komunis di Indonesia.
Kemudian reaksi
terjadilah. Pembalasan dari umat anti-komunis tak tertahankan lagi. Aksi pra 30
September 1965 disusul dengan reaksi. Reaksi ini dalam bentuk masaker. Di
negara yang partai komunisnya sukses kudeta, mereka membantai rakyat bukan
komunis. Tapi di negara yang partai komunisnya gagal kudeta, orang komunis yang
dimasaker. Apa boleh buat, ini rumus sejarah yang memang sangat pahit.
Reaksi ini,
masaker inilah yang dengan nyinyir diulang-ulang KGB. Aksi tak pernah disebut,
selalu reaksi yang disebut. Tentang sebab, tak sepatah kata disebut. Akibat
yang selalu disebut. Teror PKI terhadap umat anti-komunis 1964-1965 di atas
dilupa-lupakan, selalu dielakkan oleh KGB.
Teori
"ujug-ujug" dengan gigih selalu dipakai, yaitu tiba-tiba mereka
dizalimi, tiba-tiba mereka dibantai, tanpa sebab. Dan untuk itu KGB secara
memelas minta dikasihani ganti rugi rupiah pula. KGB menyangka bahwa publik
Indonesia bisa terus-menerus digobloki begitu.
Sebab tidak
pernah disebut, yang selalu disebut akibat. Anehnya, Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi, dengan referensi pengalaman 15 negara lain, juga tidak
mempertimbangkan sebab, selalu akibat. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia
seperti penyembelihan di 24 tempat di Karesidenan Madiun, September-November
1948, tidak disebut sama sekali.
Begitu pula 11
kasus teror terhadap rakyat anti-komunis 1964-1965 juga diabaikan total. Kedua
hal ini seolah-olah tidak ada dalam sejarah pelanggaran hak asasi manusia di
Indonesia.
Rakyat yakin
Presiden Jokowi tidak akan rabun mata dan rabun hati nurani pada kenyataan
sejarah kelam berdarah di atas, yang berhasil ditutup-tutupi oleh KGB selama
ini. Rakyat anti-komunis yang mengalami pelanggaran hak asasi manusia di Madiun
1948 dan teror 1964-1965 akan sangat kecewa dan marah bila Presiden minta maaf
kepada KGB.
Dengan demikian,
Presiden Jokowi sampai kapan pun tidak pantas minta maaf kepada KGB dalam hal
ini.
Penulis : Taufiq Ismail, Sastrawan dan penyair senior
Dikutip dari Republika
Dikutip dari Republika



