“Baik keluarga, ulama dan sekolah harus bersinergi agar
anak-anak kita jauh dari faham radikalisme. Tiga hal ini, terutama peran ulama
sangat penting agar sekolah terjaga dari faham itu, “ kata staf pengajar
sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fakultas Adab
dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
DR Zubair Mag kepada media, Rabu (14/9/2016)
Menurut Zubair, pada masa awal perkembangan islam,
istilah ulama diartikan sebagai seorang hakim, pengacara, saksi ahli dan
pengabdi yang terkait dengan profesi hukum maupun juga pejabat birokrasi
Negara. “Ulama juga disebut sebagai elit professional dan terpelajar dan
terlibat dalam segala bidang urusan kemasyarakatan dimana mereka memiliki
kemampuan yang tidak dibeda-bedakan, termasuk pendidikan,” kata Zubair.
Menurutnya, ulama lebih bersifat pada individu yaitu
dalam bentuk ikatan yang sangat kuat antara guru dengan murid yang kemudian
guru tersebut mempercayakannya untuk mengajar yang kemudian diakui oleh
kalangan para ulama yang lain dan pada akhirnya mendapat pengukuhan dari
pemerintah.
Zubair menjelaskan bahwa ulama juga diakui kapasitas
keagamaannya dalam bentuk pengakuan resmi oleh para penguasa sebagai pengurus
masjid, sebagai guru di sekolah-sekolah dasar (maktab), madrasah-madarasah yang
sekaligus bertanggung jawab terhadap mutu dan kualitas atau keberhasilan suatu
jenjang pendidikan yang mereka jalani atau sebagai hakim dalam menetapkan atau
memutuskan suatu perkara dalam pengadilan yang kemudian jabat ini dikenal
dengan istilah qadhi’.
“Sehingga perannya dalam hal menjaga dunia pendidikan
dari paham radikalisme sangat penting. Dia juga harus bersinergi dengan
keluarga dan sekolah,” katanya.
Menurutnya, Pemerintah juga tak kalah penting dalam
menjaga dan menata mekanisme pendidikan sehingga terhindar dari faham itu.
“Banyak hal yang harus dibenahi di dunia pendidikan. Semisal ajaran-ajaran
agama Islam yang harus dijaga agar tetap pada koridor ajaran yang bisa diterima
oleh agama Islam umumnya,” katanya.
Menurutnya, dia pernah mendapati sebuah sekolah cukup
mentereng di Jakarta yang memutar film perjuangan masyarakat Palestina kemudian
foto-foto yang memperlihatkan korban anak-anak yang berdarah.
“Itu disuguhkan di sekolah-sekolah dan itu harus segera
diantisipasi oleh Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan. Tidak pada
tempatnya hal-hal seperti ini disuguhkan ke anak-anak sekolah dasar. Karena itu
kementerian terkait juga harus sinergi untuk melawan faham-faham radikal
seperti ini,” katanya mengakhiri. (Adri Irianto)



No comments:
Post a Comment