![]() |
| Di fillipina penembakan misterius (Petrus) untuk membasmi genk Narkoba sudah mulai diberlakukan, terlihat Olaires menangisi jasad suaminya yang tewas terkapar ditembak orang tak dikenal. |
Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Yasay terkait adanya
tantangan domestik yang dihadapi negaranya.
"Kami mendesak setiap orang mengizinkan kami
menghadapi tantangan dalam negeri untuk bisa mencapai tujuan nasional kami
tanpa campur tangan yang tidak perlu," ujar Yasay, seperti dikutip dari
kantor berita AFP, Senin (26/9)
Bukan hanya itu, Yasay mengungapkan kegeramannya kepada
beberapa negara yang justru dianggap menghalangi upaya penegakan hukum
diwilayahnya khususnya dalam hal ini penindakan terhadap pelaku pengedar
Narkoba.
Diketahui, pemerintahan Filipina sejak berada dibawah
Presiden Duterte sudah sekitar 3.000 pengedar
dan pemakai Narkoba yang dibunuh. Sepertiganya dibunuh oleh polisi dan sisanya
dilakukan penyerang tidak dikenal sejenis penembakan misterius (Petrus) yang
pernah diberlakukan di Indonesia saat era Presiden Soeharto.
Hal ini juga yang membuat PBB, Uni Eropa dan Amerika
Serikat bersuara keras terkait tindakan pemerintah Duterte yang dianggap
melakukan pembunuhan tanpa peradilan.
"Kami tidak punya dan tidak akan pernah
memberdayakan penegak hukum untuk menembak atau bahkan membunuh orang-orang
yang diduga penjahat narkoba," ucap Yasay yang dilansir dari laman
Merdeka.com.
Menurutnya, pembunuhan ekstrayudisial tidak memperoleh
tempat dalam masyarakat dan sistem peradilan pidana Filipina. Tak hanya itu,
Yasay menyebutkan 92 persen masyarakat Filipina setuju atas tindakannya.
Yasay menuturkan, kampanye perang narkoba yang dilakukan
Duterte sepertinya telah disalahpahami oleh masyarakat dunia.
"Aksi kami, bagaimana pun, telah menjadi berita
utama nasional dan perhatian internasional dan ada kesalahpahaman di
sana," tuturnya.
Yasay dengan tegas mengatakan, negaranya tidak akan bisa
memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) baru PBB yang diadopsi tahun
lalu, jika tidak menangani korupsi dan narkoba di Filipina.



No comments:
Post a Comment