Jakarta, ZONASATU - Jihad
melawan kebencian adalah jalan menuju perdamaian dan persatuan bangsa. Masyarakat harus dapat menjadikan bulan Ramadan ini sebagai Jihad perang melawan kebencian, hoax, dan propaganda yang dapat
memecah belah persatuan bangsa.
Komisioner Komisi
Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Riri Khariroh,
MA, mengatakan, momen bulan Ramadan ini adalah momen yang sangat tepat utamanya
bagi masyarakat untuk dapat menahan diri dari mengeluarkan ujaran ujaran
kebencian baik buat kelompok-kelompok yang berbeda baik pemahaman, pemikiran, pilihan dan
sebagainya.
“Karena bulan
Ramadan adalah bulan yang harus dipenuhi oleh nasehat-nasehat ataupun oleh
perilaku dan juga ucapan maupun tindakan-tindakan yang seharusnya bisa menyebarkan
kedamaian, menimbulkan ketenangan di mayarakat dan juga menghargai
kelompok-kelompok yang berbeda,” ucap Riri Khariroh di Jakarta, Kamis
(16/5/2019).
Dikatakan Riri,
tentu akan sangat ironis kalau di bulan Ramadan ini masih ada orang yang masih
saling mencaci-maki antar kelompok yang berbeda. Masyarakat harus bisa memahami
bahwa bulan Ramadan ini adalah momen yang sangat tepat untuk berrefleksi, Karena kalau ujaran kebencian
itu masih bertahan di ruang publik, tentu Ramadan ini tidak ada bedanya dengan
bulan-bulan yang lain.
“Karena Ramadan
ini adalah bulan yang memang dikhususkan bagi kita semua untuk melakukan
refleksi terhadap 11 bulan yang sudah kita lakukan. Sehingga kesucian bulan
Ramadan ini tidak boleh kemudian dikotori oleh adanya ujaran kebencian ataupun hasutan
hasutan,” ujar Riri.
Sebagai pengurus
di Komnas Perempuan, Riri juga mengajak kaum perempuan untuk menjadi agen penebar kedamaian usai digelarnya agenda Pemilihan Presiden
(Pilpres) lalu. Dirinya tidak memungkiri bahwa dalam Pilpres tersebut
keterlibatan kaum perempuan sungguh sangat luar biasa. Karena kaum perempuan
sendiri dalam Pilpres tersebut juga digunakan untuk
menyebarkan informasi informasi baik disinformasi ataupun misinformasi oleh
calon A dan calon B.
“Itu kaum
perempuan memang digunakan. Karena memang secara sosial kaum perempuan
ini lebih dekat kepada masyarakat, lebih dekat terhadap juga keluarga dan
sebagainya. Karena kaum perempuan itu punya potensi untuk menyebarkan maupun mendekati
banyak orang agar kemudian bisa memihak terhadap kelompoknya. Perempuan
memiliki potensi untuk itu,” ujar alumni Center for International Studies,
Universitas Ohio, Amerika ini.
Potensi-potensi
yang dimiliki perempuan itu kemudian menurutnya digunakan oleh
kelompok-kelompok yang memang sengaja ingin membuat situasi politik itu semakin panas untuk menyebarkan hoax.
“Saya kira ini harus
menjadi pelajaran penting buat kaum perempuan itu sendiri, utamanya di bulan
Ramadan ini agar tidak mudah digunakan
oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menumbuhkan kebencian terhadap
kelompok-kelompok yang lain. Karena pada dasarnya perempuan ini lebih memiliki potensi untuk menjadi agen
agen penggerak perdamaian itu sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut
Riri mengatakan, potensi perempuan untuk menjadi agen penggerak perdamaian ini harus
bisa dikembangkan secara baik. “Hal semacam itu sebenanrya peran perempuan itu jauh lebih efektif jika
dibandingkan larut didalam ujaran kebencian dan juga aksi-aksi
turun ke jalan atau aksi-aksi menyebar hoax di media sosial yang sebenarnya buat perempuan itu tidak ada manfaatnya,”
kata wanita yang juga Pengurus Pimpinan Pusat Fatayat NU ini.
Dirinya
mengatakan, sebagai kaum perempuan kita boleh berbeda pilihan, tetapi
persaudaraan, pertemanan antar ibu-ibu di komplek perumahan atau di
kampung-kampung itu harus tetap terjaga dengan baik.
“Saya juga
sampaikan di lingkungan saya bahwa
kebutuhan kita (perempuan) itu apa sih kalau bukan bisa hidup nyaman,
anak-anak kita bisa sekolah dengan baik, dengan suami kita juga rukun. Kan
kebutuhan kita itu. Ngapain kita saling mencaci-maki satu sama lain,” ujarnya.
Dalam kesempatan
tersebut wanita kelahiran Rembang, 5 Desember ini juga meminta kepada kaum
prempuan untuk bisa menjadi garda dalam menangkal radikalisme di lingkungan
keluarga. Kareana peran perempuan di dalam keluarga mau tidak mau sangat
sentral. Hal ini dikarenakan perempuan secara biologis melahirkan dan juga
lebih dekat ke anak
“Perempuan
adalah ibu dari anak tersebut tentunya memiliki sensitifitas untuk melakukan
deteksi dini terhadap misalnya anak-anak yang terpapar. Makanya beberapa pelaku
terorisme itu kemudian menjadi disengage
dari terorisme itu karena faktor ibunya atau faktor istrinya. Karena ibu atau istrinya
ini bisa mempengaruhi anak ataupun suami untuk keluar dari jaringan
terorisme,” katanya .
Untuk itu
dirinya juga meminta kepada kaum perempuan untuk bisa menjadi motor penggerak
jihad kedamaian di lingkungan keluarga itu. Karena di keluarga inilah
sebenarnya nilai-nilai toleransi dan relasi antara
laki-laki dan perempuan itu dibangun.
“Karena bagaimana
masyarakatnya bisa damai kalau kaluarganya tidak damai. Jadi keluarga ini
menjadi elemen paling kecil di masyarakat untuk bisa menciptakan kedamaian di
dalam masyarakat yang lebih besar. Saya kira ini menjadi sangat penting bagi
BNPT dan Kementeraian lain untuk program-program terkait dengan keluarga,”
katanya.
Oleh karena itu
menurutnya, di bulan Ramadan inilah saatnya kita semua merefleksikan bahwa apa
yang kita lakukan kemarin itu di Pilpres dengan menyebarkan ujaran kebencian
ataupun hoax bukanlah suatu yang baik. “Alhamdulillah usai Pilpres kemarin
segera masuk bulan Ramadan. Saya kira saatnya sekarang ini merefleksikan diri
kita masing-masing agar kita menjadi lebih baik dalam menjaga perdamaian dan
tali persaudaraan dengan yang lainnya,” kata Riri mengakhiri.
| Editor | : Adri Irianto |
| Foto | : - |
| Sumber | : - |



No comments:
Post a Comment