Jakarta, ZONASATU - Ramadan adalah bulan menahan nafsu
kebinatangan dan kesetanan seperti syirik, sombong, dengki, brutal, kekerasan,
dan vandalisme yang seringkali merusak fitrah kemanusiaan. Seseorang
yang kembali kepada fitrahnya, mempunyai makna berada dalam kesucian dan
keyakinan asli sebagaimana saat ia dilahirkan.
Guru Besar bidang
Psikologi Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Achmad Mubarok, MA,
mengatakan bahwa fitrah
manusia tercermin dalam tindakan berpuasa seperti menahan diri, bekerjasama,
saling berbagi, menyebarkan kebaikan. Semangat Ramadan harus menjadikan manusia
Indonesia kembali ke fitrah kemanusiaan dan fitrah kebangsaan sebagai warga
negara yang mencintai perdamaian, bergotong royong, dan mengukuhkan persatuan.
“Karena secara sosial
kita semangatnya memberi. Karena psikologi Rahma itu pertama, penuh perhatian
kepada orang, kedua, semangat ingin memberi, ketiga, memaklumi kekurangan orang,
keempat, memaafkan kesalahan orang. Itu secara sosial. Jika orang seperti itu
maka dia akan mengarah kepada Fitrah,”
ujar Prof. Dr. H. Achmad Mubarok, MA, di Jakarta, Selasa (28/5/2019).
Sedangkan kalau
secara rasional menurutnya, ada ketertiban yang mesti dijaga. Yang kesemuanya
itu bagi kita harus mempunyai rasa keadilan. Karena kalau rasa keadilan itu
tercabut tentunya akan memancing orang untuk berbuat anarki atau munafik.
“Jadi yang
namanya cinta tanah air itu bagian dari iman itu adalah khas Indonesia. Kemudian
patuh kepada pimpinan. Tetapi pimpinan itu akan dipatuhi jika dia kontribusinya
jelas dan amanah. Maka itu akan ada rasa saling mengisi dan memiliki fungsi..
Karena pemimpin yang dipatuhi secara alamiah yaitu matahari, untuk itulah
dibutuhkan ‘matahari’ bangsa,” kata pria kelahiran Purwokerto, 15 Desember 1945
ini.
Mubarok
mengatakan, mengapa ‘matahari’ itu harus dipatuhi, hal tersebut dikarenakan
dari sifat matahari ketika terbit orang akan
bangun. Lalu ketika matahari naik, maka orang akan kerja. Demikian pula ketika
matahari mulai turun, orang akan istirahat. Dan ketika matahari tenggelam, orang
akan tidur. Dan ketika matahari terbit, bintang tidak akan nampak.
“Mengapa orang
patuh kepada ‘matahari’ ? Karena matahari itu konsisten di dalam memberi
kontribusi, kehangatan, keterangan dan sebagainya. Tapi kalau bangsa ini tidak
punya pemimpin matahari, maka akan banyak bintang-bintang politik. Akibatnya
persatuan ini agak susah diatur,” ujar Ketua Harian Yayasan Amanah Kita ini
menjelaskan.
Untuk itulah
menurutnya, masyarakat harus dapat memaknai fitra
dan implementasi untuk keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia itu
sendiri. Karena masyarakat Indonesia itu punya budaya yang mana budaya Indonesia
bersumber atau mengacu pada alam yang contohnya seperti ‘matahari’ tadi yang
suka memberi. Contoh lain yakni pohon yang kalau di gunting-gunting akan tumbuh
daun-daun baru.
“Jadi kalau kita
memberi, jutru ini akan bertambah yang segar. Dan sumber-sumber budaya itu juga
merupakan ajaran agama. Oleh karena itu budaya Indonesia itu sesungguhnya sarat
dengan ajaran-ajaran agama,” ucap Wakil
Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) ini.
Dalam hal
tersebut Mubarok mencontohkan dengan dasar negara, Pancasila yang mana Pancasila
ini bandingannya hanya Piagam Madinah dari Rasul Muhammad SAW yang tentunya
Pigama Madinah itu sangat luar biasa
sekali dalam upaya mempersatukan antar umat yang berbeda-beda.
“Problem di
Indonesia ini adalah bagaimana membumikan Pancasila itu sendiri. Jadi bukan sibuk ‘saya Pancasila’. Bukan seperti
itu. Tetapi bagaimana membumikan
Pancasila dalam kehidupan berpolitik, kehidupan ekonomi, kehidupan sosial. Jika
hal tersebut bisa diterapkan, maka otomatis rasa persatuan antar sesama
warga itu akan dating meski kita
berbeda-beda,” tutur mantan anggota MPR RI ini
Lebih lanjut
Mubarok mengatakan, seseorang
yang kembali kepada fitrahnya, mempunyai makna berada dalam kesucian dan keyakinan
asal sebagaimana saat ia dilahirkan. Dan masyarakat harus menyadari bahwa melakukan
tindakan kekerasan, menyebarkan kebencian, mengadu domba, serta tindakan
terorisme itu bukanlah bentuk fitrah
manusia. Untuk itulah manusia diminta untuk bisa menjaga
kesuciannya.
“Suci itu unsurnya ada tiga yaitu baik, benar dan indah. Kalau tidak baik, pasti
tidak Indah. Kalau tidak benar, pasti juga tidak indah. Jadi kalau kita menjaga kesucian
pergaulan, kesucian cita-cita, kesucian perjuangan tentunya harus dilakukan
dengan benar, pendekatan yang baik. Karena dari situ kemudian timbul keindahan,”
tutur mantan Wakil Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Untuk itulah
menurutnya dalam membangun fitrah sosial di kehidupan bangsa ini harus selalu
dengan mensosialisasikan tentang kebenaran dan kebaikan. Sehingga dapat
diperoleh hasil yang harmoni antara yang satu dengan yang lainnya.
Selain itu
dirinya juga meminta kepada masyarkat untuk dapat menjaga kemajemukan yang dimiliki bangsa ini agar
masyarakat bangsa
ini tetap rukun dan bersatu.
Karena majemuk itu memiliki arti yang bermacam-macam, ada yang
besar dan ada yang kecil. Yang mana yang dibutuhkan adalah pertukaran peran,
dimana sesungguhnya yang besar membutuhkan
yang kecil dan yang kecil juga membutuhkan yang besar.
“Contoh, orang
kaya butuh ada kuli, butuh pembantu. Sementara pembantu butuh ada orang yang
bisa membayar. Nah kalau orang kaya menghargai orang kecil, maka orang kecil
juga akan menghargai orang kaya. Tetapi kalau orang kaya mengeksploitasi orang
kecil, maka tidak terjadi harmoni. Disitulah agama mengatur. Seperti zakat, dimana
zakat adalah hak orang miskin yang ada pada orang kaya. Kalau ada orang kaya bayar
zakat itu bukan kebaikan, tapi itu
menunaikan kewajiban. Kalau mau kebaikan, tentunya dia memberi lebih dari apa
yang diwajibkan,” katanya menjelaskan.
Dalam kesempatan
tersebut dirinya juga menghimgbau kepada masyarkat untuk selalu menjaga
persatuan di tengah perbedaan yang ada pasca Pilpres 2019 lalu. Karena
perbedaan itu sesungguhnya Sunatullah. Dirinya meminta masyarakat untuk menyadari
bahwa berpolitik itu ibarat seperti music. Dimana musik itu ada nada, ada irama
atau irama dan ada harmoni.
“Kapan nada itu
dibunyikan, tentunya sesuai ritmenya yang kemudian akan menjadi Harmoni. Sehingga perbedaan itu menjadi musik yang
indah. Tapi kalau nada itu sendiri tidak mengikuti ritme, maka akan terjadi
cheos. Nah budaya politik inilah yang harus dimiliki oleh kita semua,’ katanya.
Karena sejatinya
menurutnya, politik itu adalah game atau permainan. Tetapi yang terjadi
sekarang ini politik itu justru bukan permainan, tetapi menjadi mempermainkan. “Saya
melihatnya politik sekarang ini bukanlah permainan. Karena kalau permainan itu
sebenarnya indah, tapi kalau mempermainkan tentunya kita akan kesal, menjadi
korban. Nah tentunya kita harus dapat
menahan diri agar tidak kesal dengan apa yang terjadi,” ujarnya mengakhiri
| Editor | : Adri Irianto |
| Foto | : - |
| Sumber | : - |



No comments:
Post a Comment