Jakarta, ZONASATU - Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah, KH.Yusnar Yusuf Rangkuti, M.Sc, Ph.D mengatan bahwa paham radikal terorisme sebenarnya adalah sesuatu ajaran pemikiran yang menyimpang dari paham yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri. Adanya pemikiran yang menyimpang dari agama Islam itu dikarenakan memahami terhadap ajaran Islam yang tidak sempurna dan tidak mendalam.
“Sehingga
kemudian memandang orang lain itu tidak sesuai dengan pandangan dia. Inilah
yang kemudian menjadi paham radikal. Padahal paham yang benar tentang Islam itu
tentunya adalah ‘Ya’lu Wala Yu’la ‘alaihi’
yang artinya adalah Islam itu adalah sesuatu agama yang lebih tinggi dari pada
agama yang lain sehingga tidak perlu khawatir,” ujar KH.Yusnar Yusuf Rangkuti,
M.Sc, Ph.D, di Jakarta, Jumat (19/6/2020).
Untuk itu pria yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menyampaikan bahwa penting adanya vaksin yang bisa menjaga imunitas sosial dan kultural agar tidak mudah terprovokasi dari virus radikalisme.
Menurutnya salah satu cara untuk membendung
penyebaran paham radikalisme tersebut untuk meluruskan pandangan radikal tersebut adalah melalui dakwah yang harus dilakukan secara terus menerus.
“Dakwah harus
terus dilakukan tanpa henti untuk memberikan pandangan yang benar dan
meluruskan padangan-pandangan yang melenceng terhadap Islam itu tadi. Sehingga
masyarakat memiliki paham yang benar bahwa Islam itu adalah agama yang Rahmatan Lil Alamin dan tidak
mengajarkan kekerasan ataupun melakukan aksi terorisme,” tutur pria .kelahiran Medan, 25 Maret 1955 ini
Pria yang jutga Imam
Besar Masjid Raya Telaga Kahuripan Bogor ini mengungkapkan bahwa sebenarnya
perbedaan pendapat di dalam agama Islam adalah suatu hal yang biasa. Contohnya mengani
adanya kebijakan yang mengatakan boleh shalat Jumat beberapa gelombang saat
oanemi Covid-19 ini.
“Ada yang
mengatakan boleh dilakukan bergelombang, berganti-gantian sebagai upaya untuk
mencegah peyenbaran virus corona. Ini juga semapat menjadi pertentangan di
media. Tapi ya silahkan saja shalat Jumat sesuai yang ditetapkan, kan itu hanya
sementara saja yang tujuannya baik untuk mencegah penyebaran virus,” terang pria
yang juga Wakil Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini.
Dalam menghadapi
virus Covid-19 yang mana banyaknya provokasi yang menentang kebijakan
pemerintah dan bahkan kebijalan ulama yang dihembuskan pihak yang tidak
bertanggung jawab, menurutnya terkait hal tersebut masyarakat bukannya
terprovokasi, melainkan kurangnya kontrol di media sosial (medsos) sehingga
mudah sekali dalam menyebarkan hoaks.
“Saya melihat di
medsos yang sekarang itu tidak terkontrol maka seharusnya pemerintah melakukan
tindakan kepada mereka-mereka yang menyebarkan hoaks. Tangkap saja yang suka
menyebar hoaks itu. Karena itu telah menyebarkan sesuatu yang berbeda dengan
apa yang telah dikatakan pemerintah,” katanya.
Yusnar yang sering melakukan dakwah dan syiar Islam
ke berbagai negara bertematik Islam agama Rahmatan
Lil Alamin sebagai Islam toleran ini juga menambahkan bahwa perlunya
moderasi beragama untuk menanamkan sikap toleransi keberagaman kepada
masyarakat.
“Kalau dalam
moderasi beragama, apa yang telah disampaikan oleh pemerintah ataupun ulama yamg
mana hal tersebut merupakan suatu hal untuk kebaikan banyak umat, tentunya kita
harus mematuhinya. Karena hal itukan juga bagian dari melaksanakan toleransi.
Dan di dalam Islam juga mengajarkan seperti itu, ‘Ruhama bainahum’ yang artinya menebarkan kasih sayang terhadap
sesama,” ungkap pria yang juga Qori Internasional ini.
Selain itu dalam
menanamkan vaksin anti radikalisme pada diri masyarakat, peraih gelar Doktoral dari
University Kebangsaan Malaysia itu mengatakan bahwa sebenarnya sejak dulu
imunitas itu sudah ada pada diri masing-masing manusia termasuk imunitas untuk
melawan virus radikal.
“Kita sebenarnya
sejak dulu bisa menumbuhkan imunitas untuk diri kita sendiri bahkan tanpa
vaksi. Tetapi apakah boleh ada vaksin? Ya boleh saja. Terkait vaksin anti
radikalisme untuk menjaga diri dari pengaruh paham radikal, tentunya Islam
sendiri sudah mengajarkan sejak awal yang namanya ‘Thaharah’ yang bermakna bersih atau menyucikan diri yang mencakup secara
lahir dan batin. Kalau diri kita sudah bersih, tentunya tidak akan kena yang
namanya vius radikal seperti itu,”
tuturnya
Terkait peran
ormas Islam dalam berperan saat menghadapi Covid-19 ini, peraih gelar Master
dari Institut Pertanian Bogor itu mengungkapkan bahwa selama ini ormas Islam termasuk
ormas Al Washliyah yang dipimpinnya sebagai salah satu anggota LPOI ini sudah
memberikan bantuan kepada masyarakat, bahkan tanpa diminta oleh pemerintah terlebih
dahulu.
“Sejak awal kita
dari ormas Islam termasuk Al Washliyah sudah turun langsung memberi bantuan
kepada masyarakat. Kami berkumpul dulu lalu kemudian turun membantu masyarakat
yang terdampak itu. Kita lihat masyarakat disekitar kita yang tidak bekerja
karena terkena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kita kasih mereka
bantuan untuk meringankan,” ucap Ketua Ikatan Persaudaraan Qaridan Qariah Hafiz
dan Hafizah (IPQAH) itu.
Dalam kesempatan
tersebut pria yang juga pernah menjadi Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM)
ini juga menghimbau kepada umat muslim di Indonesia untuk kembali memunculkan
keramah tamahan yang dimiliki masyarakat bangsa Indonesia dengan senyum
sehari-hari. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar
sesama warga bangsa ini dan terhadap warga bangsa lain.
“Kita menghimbau
kepada umat muslim Indonesia karena saya kira bangsa Indonesia ini adalah
bangsa yang sangat ramah. Kembalilah kita galakkan senyum yang ramah kepada
semuanya, karena dengan senyum itu akan terlihat bahwasannya bangsa Indonesia
ini adalah bangsa yang ramah, bangsa yang sangat toleran,” ujar mantan Direktur
Pendidikan Agama Islam Masyarakat Departemen Agama ini mengakhiri.
| Editor | : Adri Irianto |
| Foto | : - |
| Sumber | : - |



No comments:
Post a Comment