![]() |
Malang
(Zonasatu.co.id) - Dewasa ini, propaganda dan ajakan kekerasan yang
disebarkan oleh kelompok radikal ISIS tidak hanya menyasar pada kalangan
menengah ke bawah. Kalangan terdidik pun menjadi target dan sasaran rekruitmen.
Beberapa contoh dari berbagai negara kalangan pelajar dan mahasiswa telah
meninggalkan negaranya untuk berangkat ke Irak-Suriah. Hal sama juga terjadi di
lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa mahasiswa dari perguruan
tinggi dilaporkan hilang secara misterius dan ada beberapa yang dilaporkan
bergabung dengan ISIS.
Fenomena radikalisasi di lingkungan perguruan tinggi
tersebut patut menjadi keprihatinan bersama. Dalam rangka itulah, Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan Kementerian Riset
Teknologi dan Pendidikan Tinggi menggelar kegiatan “Dialog Pencegahan Paham di
Kalangan Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya(27/8/2015).
Kegiatan ini akan dibuka secara resmi oleh Kepala BNPT
yang akan diwakili oleh Direktur Pencegahan Brigjen Pol. Drs. Hamidin. Disambut
oleh Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Moh. Bisri, MS., selaku tuan
rumah dan Anggota Komisi III DPR-RI Drs. Ahmad Basarah, MH. Menghadirkan
narasumber Brigjen Pol. Drs. Hamidin (Direktur Pencegahan BNPT), Dr. Widyo
Winarso (Ditjen Dikti), M. Yahya, Ph.D (Akademisi UIN Malang), dan Ali Fauzi,
M.Pd. (Mantan anggota jaringan Teroris).
Dalam kegiatan yang mengundang 300 peserta yang terdiri
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan mahasiswa dari 94 perguruan tinggi
di Jawa Timur ini juga dilaksanakan penandatanganan “Komitmen Bersama
Pencegahan Paham ISIS Di Perguruan Tinggi” oleh BNPT, Kemenristek Dikti,
Komisi III DPR-RI dan para Wakil Rektor serta Mahasiswa. Melalui “Komitmen
Bersama” ini diharapkan meningkatnya sinergi BNPT dengan Kemenristek Dikti dan
civitas akademika, membentengi kampus dari pengaruh ISIS.
Kekhawatiran infiltrasi paham kekerasan dan radikalisme
seperti ISIS bukan tanpa dasar. Sudah banyak kalangan terdidik, khususnya
mahasiswa yang telah terpedaya dengan hasutan dan provokasi ISIS. Dalam
kegiatan ini diharapkan para pimpinan perguruan tinggi dapat memberikan rumusan
dan solusi terbaik bagaimana membentengi lingkungan perguruan tinggi dari
pengaruh paham radikal teroris khususnya ISIS.
Kehadiran ISIS sebagai salah satu dari kelompok teroris
yang rajin menebar teror akhir-akhir ini telah memunculkan fenomena radikalisme
baru khususnya di kalangan anak muda. Jika dulu anak muda yang terjaring dalam
kelompok terorisme diduga dari latar belakang pendidikan yang rendah dan secara
ekonomi menengah ke bawah, saat ini golongan terpelajar dari
kalangan kelas menengah pun menjadi sasaran dan target dari propaganda dan
rekruitmen ISIS.
Selain pola penyebaran konvensional, ISIS dikenal sebagai
kelompok teroris yang secara manipulatifmemanfaatkan kekuatan teknologi
dan informasi internet sebagai alat propaganda. ISIS merupakan salah satu
gerakan teroris yang mampu memanfaatkan media sosial sebagai media propaganda
sekaligus rekuritmen keanggotaan. Faktanya, tidak sedikit anak muda yang
bergabung dengan ISIS melalui propaganda dan jejaring pertemanan di media
sosial.
Dengan adanya beberapa kasus keterlibatan
kalangan mahasiswa dalam jaringan dan aksi terorismeISIS merupakan fakta
kerentanan lembaga pendidikan tinggi sebagai target kelompok radikal terorisme khususnya
ISIS. Atas dasar tersebut maka pencegahan paham ISIS di lingkungan
pendidikan tinggi menjadi sangat penting untuk terus
dilakukan secara berkesinambungan. Selain itukerjasama antar pihak terkait dalam
menanggulangi masalah tersebut harus terus berjalan dan tidak boleh
berhenti di tengah jalan. Dengan dialog maka upaya untuk terus meredam
paham ISIS dikalangan Perguruan Tinggi dapat terlaksana secara optimal,
serta diharapkan pola pikir mahasiswa dapat terbuka dan memperoleh
informasi yang berimbang bahwa ISIS dan kelompok-kelompok radikal terorisme
merupakan hal yang membahayakan kelangsungan hidup, baik dalam lingkungan
keluarga, berbangsa dan beragama. (AS/BNPT)


