Jakarta, ZONASATU - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sepakat bekerja
sama dengan perusahaan asal Swedia, Saab, melalui penandatanganan nota
kesepahaman di Kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau
Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/8) siang. Kerja sama bertujuan
melakukan alih teknologi maju produk industri pertahanan.
Hal tersebut sebagai bagian upaya mewujudkan kemandirian
bangsa di bidang penelitian, pengembangan, dan kerekayasaan teknologi produk
industri peralatan pertahanan dan keamanan nasional.
"Ini untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) memiliki kemampuan untuk pengkajian dan penerapan teknologi
dari hasil kerja sama," ujar Direktur Pusat Teknologi Industri Pertahanan
dan Keamanan BPPT, Samudro, Kamis, dalam pidato sebelum penandatanganan nota
kesepahaman.
Chief Technology Officer Saab, Pontus de Laval,
menuturkan, Swedia dan Saab sudah menunjukkan contoh sukses pelaksanaan konsep
triple helix (sinergi akademisi, pemerintah, dan industri) dalam memajukan
riset. Salah satu hasilnya adalah pengembangan sistem pertempuran udara.
"Kerja sama ini akan memperkuat semua pihak dan memungkinkan berkontribusi
maksimal dalam pembuatan inovasi," ujarnya.
Berdasarkan informasi dari alamat laman http://saabgroup.com/about-company/company-in-brief/,
Saab merupakan perusahaan yang menyediakan produk, jasa, dan solusi terkait
pertahanan militer maupun keamanan sipil. Pasar penting Saab AB saat ini adalah
Eropa, Afrika Selatan, Australia, dan Amerika Serikat.
Penjualan tahunan perusahaan ini mencapai sekitar 24
miliar krona Swedia (Rp 39,9 triliun). Lebih kurang 20 persen dari penjualan
digunakan untuk penelitian dan pengembangan. (TW/Kompas)


