Jakarta
(Zonasatu.co.id) - Tingginya eskalasi ancaman kedaulatan laut di perairan
perbatasan Indonesia di Laut China Selatan, dan klaim China terhadap perairan
Laut China Selatan, TNI AL akan mengelar latihan perang bersinergi dengan TNI
AU di perairan Pulau Natuna, bagian utara wilayah laut Provinsi Kalimantan
Barat, Kamis (27/8/2015).
"Latihan perang ini dilakukan secara gabungan dan
sinergi dengan TNI AU terutama Lanud Supadio Pontianak, dimana nanti tak hanya
tiga kapal perang TNI AL yang dilibatkan namun juga skuadron Elang Khatulistiwa
di Lanud Supadio Pontianak," kata Kepala Asiten Operasi TNI AL, Kolonel
Laut (P) Bambang S kepada detikcom di Lantamal XII Pontianak, Selasa (25/8/2015).
Latihan perang digelar bersamaan dengan munculnya masalah
hubungan Indonesia-Malaysia terkait perairan Temajuk, Kabupaten Sambas, yang
diklaim oleh Malaysia. Malaysia mendirikan menara suar di perairan itu.
"Kita harus siap terhadap segala ancaman, karena
kita tidak ingin kasus hilangnya Sipadan dan Ligitan terulang," tegasnya.
Skenario latihan perang ini dipadukan antara kekuatan
militer laut dan udara. "Secara rinci skenario belum diketahui, tapi yang
jelas latihan perang ini melibatkan unsur kekuatan TNI AL dan TNI AU,"
tambah Komandan Satuan Keamanan Laut, Mayor Laut M. Homsin.
Homsin menjelaskan latihan bersama ini melibatkan tiga
KRI yakni KRI Kujang-642 dan KRI Sembilang-850 yang bertolak dari Batam menuju
ke perairan sekitar Natuna. Sementara KRI Silas Papare-386 bertolak dari
Pontianak pada hari, Rabu (26/8/2015) menuju ke perairan Natuna dari Lantamal
XII Pontianak.
"Dalam skenario nanti KRI Silas Papare buatan Jerman
dijadikan sebagai kapal asing yang memasuki perairan Indonesia, sementara dua
KRI yakni Kujang dan Sembilang melakukan operasi penyergapan di wilayah ALKI
Satu perairan Natuna," jelas Homsin.
Setelah melakukan penyergapan ini, dua KRI melakukan
kontak ke Pusat Komando untuk melakukan langkah-langkah dan tindakan nyata.
"Apabila dalam operasi penyergapan dua KRI ini tidak
mampu mengatasi ancaman dari kapal asing, maka dua KRI akan meminta bantuan ke
TNI AU dengan meminta dukungan operasi udara menggunakan pesawat tempur Hawk
dari Lanud Supadio Pontianak," ujarnya.
Latihan bersama terintegrasi ini untuk meningkatkan
kesiapan TNI AL dan TNI AU terhadap ancaman kedaulatan maritim Indonesia yang
berada di perbatasan dengan negara lain, termasuk klaim China terhadap Laut
China Selatan dan ilegal fishing di perairan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia
(ZEEI). (SRK/Detik)


