Moskow telah mematok strategi untuk meyakinkan AS dan sekutunya bahwa untuk saat ini Assad dan tentaranya adalah pihak yang paling efektif memerangi kelompok teroris tersebut.
Moskow (Zonasatu.co.id) - Spekulasi yang merebak terkait tuduhan kehadiran pasukan
Rusia di Suriah kini membuat isu memerangi ekspansi ISIS menjadi agenda politik
utama. Dalam beberapa minggu ke depan, beragam metode untuk memerangi kelompok
militan radikal akan didiskusikan dalam Sidang Umum PBB dan Konferensi G20 di
Antalya.
Perpecahan antara Rusia dan Iran di satu sisi dan AS dan
sekutunya, sebut saja monarki Teluk, di sisi lain, masih sama parahnya seperti
awal perang sipil di Suriah, yang kini sudah berlangsung empat tahun. Hal yang
menjadi batu sandungan adalah perdebatan apakah rezim Assad harus digulingkan
atau diajak bekerja sama untuk memerangi ISIS.
Moskow telah mematok strategi untuk meyakinkan AS dan
sekutunya bahwa untuk saat ini Assad dan tentaranya adalah pihak yang paling
efektif memerangi kelompok teroris tersebut. Logika bahwa koalisi anti-ISIS
yang luas, termasuk melibatkan rezim Assad, akan mempermudah kemenangan pasukan
anti-ISIS.
Untuk memfasilitasi pertempuran tersebut, strategi
diplomasi Rusia berusaha merangkul semua pemangku kepentingan. Kecuali Presiden
AS Barack Obama, Moskow telah bicara dengan semua pemimpin negara yang
berkepentingan, yakni Turki, Mesir, Yordania, dan Arab Saudi. Berdasarkan
sumber Moskow, hasil diskusi tersebut menelurkan progres yang cukup berarti.
Sebagai contoh, kini pihak-pihak yang berkepentingan
sudah paham bahwa, seperti yang disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin,
“Perang melawan terorisme harus dilakukan bersamaan dengan proses politik di
Suriah.” Rezim di Damaskus sepertinya sedang mencoba memenuhi keinginan pemain
regional lain. Assad siap menggelar pemilu parlemen lebih awal, melibatkan
oposisi moderat dalam dialog, serta menawarkan pos pemerintah bagi mereka.
Namun, hal ini mungkin tak cukup menciptakan terobosan
dalam proses politik penyelesaian konflik, karena pertempuan intensif masih
berlangsung di ibukota Suriah, dan kejayaan Assad tinggal menghitung hari.
Namun sesungguhnya, harapan yang sama telah dipupuk oleh oposisi sejak empat
tahun lalu, dan semakin kuat pada musim semi lalu.
Spekulasi mengenai keterlibatan Moskow dalam konflik
Suriah secara militer menarik perhatian semua pihak. Namun, apakah hal itu
mungkin terjadi?
Grigory Kosach, pakar politik dunia Arab dan profesor di
Russian State University for the Humanities, menyampaikan pada Troika Report:
“Asumsi bahwa Rusia
akan segera terlibat dalam konfrontasi dengan ISIS sungguh tak realistis.
Secara praktis, saya tak melihat bagaimana personel militer Rusia yang
ditempatkan di Suriah dapat bertempur dengan ISIS karena mereka dihambat oleh
zona pemisah yang luas, di mana para kelompok militan bertempur satu sama lain.
Bagaimana mereka menetapkan target ISIS? Tentu, butuh banyak persiapan untuk
memutuskan terlibat dalam konflik tersebut secara militer suatu hari kelak.”
“Patut dicatat
bahwa saat ini, seperti yang disampaikan banyak pihak, Moskow fokus menyokong
Bashar al-Assad, yang mungkin dalam skenario terburuk dapat mencari
perlindungan di pegunungan Latakia atau Alawi.”
Apakah mungkin AS
menyesuaikan posisi terkait krisis Suriah, misalnya nasib Bashar al-Assad?
“Posisi AS tak
dipahat di atas batu, itu bisa berubah kapan saja. Lagi pula, AS sudah mengakui
bahwa penting untuk mempertahankan struktur pemerintah (di Suriah), artinya
tentara dan lembaga keamanan Suriah tak bisa dibubarkan. Hal itu merupakan
pelajaran yang dipetik AS dari Irak, karena ketika lembaga pemerintah
dibubarkan, ISIS akan dengan mudah melebarkan sayap.”
“Jadi, apa saja
bisa terjadi, meski saya tak memprediksi AS akan menerima Assad, khususnya
karena tekanan dari negara-negara Teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang
menginginkan turunnya presiden Suriah saat ini. Tapi, bahkan Arab Saudi tak
ingin institusi di Suriah bubar, karena itu akan memperparah kekacauan.”
Banyaknya diskusi
diplomatik dan pernyataan yang dikeluarkan merupakan bukti bahwa proses sedang
berjalan. Para aktor utama tengah menimbang kemungkinan solusi terbaik sesuai
kepentingan mereka dalam menyelesaikan dua krisis besar: perang saudara di
Suriah dan ekspansi ISIS, yang kini merupakan tujuan utama bagi negara-negara
di seluruh dunia. (SRK/RBTH Indonesia)


