”Bagi kami, Arktik adalah sumber daya mineral, transportasi, dan satu hal juga tidak boleh lupa tentang ikan dan produk laut serta sumber bio energi. Potensi di sini sangat besar,”
AS (Zonasatu.co.id) - Perseteruan Rusia dan
Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru, di mana kedua negara itu mulai
terlibat “keributan” untuk berebut pengaruh di Kutub Utara atau Arktik.
AS mulai terusik dengan Rusia yang membangun kembali pangkalan
militer era Soviet di wilayah kaya minyak dan gas alam itu.
Presiden AS, Barack Obama, menginginkan militer AS
melakukan navigasi di wilayah Arktik, di mana Rusia dan China telah mematok
perbatasan wilayah baru. Fox News pada Selasa (1/9/2015) menulis Rusia dapat
mempersiapkan “Perang Es” dan Pentagon akan meresponnya.
Sekitar 40 persen dari cadangan minyak dan gas alam di
dunia berada di Arktik. Pencairan lapiran es di Kutub Utara itu juga akan
menyebabkan rute pelayaran baru, di mana Rusia ingin membangun jalur semacam
“Terusan Suez” seperti yang dilakukan Mesir di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Pada Maret lalu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah
memerintahkan militernya melakukan latihan perang besar-besaran di Arktik untuk
menandai setahun aneksasi Rusia terhadap Crimea setelah lepas dari Ukraina.
Sekitar 40 ribu tentara, puluhan kapal perang dan kapal selam Rusia dikerahkan
dalam latihan perang tersebut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Ashton Carter,
dalam forum American Legion kembali memperingatkan Rusia. ”Kami tidak berusaha
untuk membuat Rusia menjadi musuh,” katanya.
“Tapi jangan salah, ketika Vladimir Putin berniat
mengubah jam kembali di Rusia, ia tidak bisa memutar balik waktu di Eropa. Kami
akan membela sekutu kami,” katanya lagi.
Sedangkan Menteri Ekonomi Rusia, Alexey Ulyukaev,
menjelaskan pentingnya Arktik bagi Rusia. ”Bagi kami, Arktik adalah sumber daya
mineral, transportasi, dan satu hal juga tidak boleh lupa tentang ikan dan
produk laut serta sumber bio energi. Potensi di sini sangat besar,” kata
Ulyukaev.
Setelah Rusia terlibat konflik dengan Ukraina yang dibela
AS, Rusia menarik diri dari keanggotaan Dewan Arktik, di mana konsorsium di
dewan itu terdiri dari delapan negara yang mencakup AS.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner,
mengatakan AS khawatir dengan sepak terjang militer Rusia di Arktik. ”Kami
memiliki keprihatinan khusus tentang Rusia, saya akan mengatakan bahwa kami
memiliki kekhawatiran tentang bagaimana militer (Rusia) melakukannya sendiri di
Kutub Utara, tapi apakah itu semua untuk Arktik? anggota Dewan (Arktik) akan
membahas.” (SRK/SindoNews)


