![]() |
| Raymon Pierre Paul Westerling salah satu penjahat perang yang pernah dibantu Poh An Tui melarikan diri ke Singapura |
Laskar PO AN TUI, adalah
satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda. Inilah fakta sejarah tak pernah terungkap selama ini dikalangan pribumi.
Tugas laskar Po An Tui selain
menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Kehadiran serta sepak
terjangnya yang terkenal kejam menjadi salah satu penyebab pejuang Islam sangat
membenci etnis Cina, dan sebaliknya etnis Cinapun antipati terhadap para
pejuang Islam.
Aksi Po An Tui itu tergolong
kejam bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara Belanda.
Sayangnya, dalam penulisan
sejarah, keberadaan dan kejahatan serta tindak-tanduk laskar Po An Tui
cenderung diabaikan. Ada upaya sistematis untuk menghilangkan fakta sejarah
ini.
Jenderal TNI (Purn) Abdul
Haris Nasution yang kala itu menjabat KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) dalam
bukunya “Memenuhi Panggilan Tugas,” mengisahkan bahwa, setelah menebar teror di
Bandung, dan jadi buronan pasukan Siliwangi Westerling berhasil lolos ke
Jakarta.
Tapi persembunyiannya di
Jakarta (Tanjung Priok) akhirnya berhasil diendus oleh satuan CPM dari KMKBDR
(Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja), khususnya sub KMK Tanjung Priok.
Westerling pun tertangkap.
Namun, saat hendak digelandang ke KMK, secara tiba-tiba Westerling dan
ajudannya memberondong satuan CPM, dan melarikan diri ke aeah Zandvoort (pantai
Sampur).
Di pantai itu telah menunggu
sebuah pesawat Catalina yang kemudian membawa Westerling kabur ke Singapura.
Mudahnya Westerling kabur ke Singapura, karena ia memiliki hubungan istimewa
dengan Laskar PO AN TUI. Dimasa Perang Kemerdekaan laskar ini mendapat pasokan
senjata dari Singapura.
Laskar PO AN TUI, adalah
satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda.
Tugas laskar Po An Tui selain
menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Kehadiran serta sepak
terjangnya yang terkenal kejam menjadi salah satu penyebab pejuang membenci
etnis Cina dan etnis Cina pun antipati terhadap para pejuang.
Sebagai mata-mata, anggota
laskar Po An Tui selalu mengamat-amati kegiatan para pejuang. Akibatnya
gerak-gerik dan markas pejuang dapat diketahui. Setelah markas para pejuang
diketahui, Belanda melakukan serangan gabungan dengan Inggris terhadap markas
para pejuang.
Laskar Po An Tui tidak hanya
terdapat di Jakarta, tapi juga di Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya. Aksi
Po An Tui itu tergolong kejam bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara
Belanda.
Di Bandung, laskar Po An Tui
aktif membantu NICA (Nederland Indische Civil Administration) menebar teror
terhadap para pejuang, seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan
penjarahan. Teror itu bertujuan agar pribumi segera pindah ke Bandung Selatan
dan tidak mendukung RI.
Sayangnya, dalam penulisan
sejarah, keberadaan dan tindak tanduk laskar Po An Tui cenderung diabaikan. Ada
upaya sistematis untuk menghilangkan fakta sejarah ini. Mungkin tujuannya agar
bangsa ini tidak mengetahui sejarah. Tapi para pejuang yang pernah menderita
kekejamannya tentu tidak dapat melupakannya.
Menurut salah seorang putera
pejuang kemerdekaan RI, masalah kekejaman Po An Tui sempat disinggung dalam
persidangan Konstituante di tahun 1950-an. Ia menulis salinan penggalan pidato
seorang pejuang yang menjadi anggota Konstituante.
Pidato yang disampaikan oleh
Mado Miharna (organisasi Persatuan Rakyat Desa) di hadapan Sidang Pleno
Konstituante tahun 1959 adalah sebagai berikut:
Saudara Ketua dan Madjelis
Konstituante jang terhormat, dalam rangka pemandangan umum;
Saudara Ketua, bagi seluruh
pedjuang bangsa Indonesia jang mengikuti dan mengalami pahit-getirnja
perdjuangan sedjak Proklamasi 1945, lebih-lebih tentunja bagi perintis-perintis
kemerdekaan bangsa, melihat keadaan dan penderitaan masjarakat dewasa ini,
pasti akan sedih, sedih karena ini bukanlah tudjuan kita, bukan masjarakat
sematjam sekarang jang kita idam-idamkan.
Seluruh lapisan masjarakat
telah berdjuang tetapi baru beberapa gelintir orang-orang sadja jang senang.
Beribu-ribu pedjuang kita dibunuh, tetapi golongan pembunuh jang menikmati
keuntungan.
Para pedjuang kita ditangkap
dan disiksa, tetapi hasilnja golongan jang menangkapi dan menjiksa para
pedjuang masih berkuasa.
Pao An Tui sementara dari
golongan Tionghoa jang membantu aktif tentara Belanda jang telah membunuh,
membakar, menangkapi anak-anak buah kami, sampai sekarang masih bergelandangan,
bukan sadja masih bergelandangan, tetapi berkuasa dan menguasai segala sektor
penghidupan rakjat.
Golongan Po An Tui jang telah
dengan kedjamnja membunuh dan membakar para pedjuang kemerdekaan termasuk
anak-anak buah kami, karena mereka tidak mengungsi dan terus berada di kota
bersama Belanda, mendadak menjadi kaja, sesudah Belanda tidak ada mereka
menduduki bekas tempat Belanda.
"Inilah bukan bajangan, bukan impian, tetapi kenjataan, lihatlah sadja di Bandung" …. (Pidato yang disampaikan oleh Mado Miharna –organisasi Persatuan Rakyat Desa– di hadapan Sidang Pleno Konstituante, waktu itu (1959).
(Voa-Islam)


