![]() |
| Dalam peta ini menunjukkan klaim China atas 200 mil wilayah ZEE Indonesia ditandai dengan garis merah |
"Soal nine-dash line, kami sepakat bahwa kebebasan pelayaran, code of conduct mengemuka. Namun kita ingin mengedepankan dialog untuk mengatasi masalah itu,"
"Beberapa waktu lalu ada berita soal klaim Natuna.
Itu sama sekali tidak benar," kata Retno dalam keterangannya kepada media
massa di Kuala Lumpur, Jumat.
Kepemilikan Indonesia atas Kepulauan Natuna, lanjut dia,
sudah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan tidak pernah ada keberatan
dari pihak mana pun, termasuk China.
Sebagai bukti terakhir, Menlu mengutip pernyataan juru
bicara Menlu China, yang dengan jelas menyebutkan soal kepemilikan Kepulauan
Natuna oleh Indonesia.
"Ini adalah wilayah Indonesia. Titik," tegas
dia.
Ditambahkannya bahwa penentuan delimitasi, termasuk zona
ekonomi eksklusif dan batas kontinental, ditarik dari garis-garis tersebut,
karena yang disengketakan antara beberapa negara adalah masalah fitur berupa
pulau, atol, bebatuan, dan sebagainya.
"Dalam hal ini Indonesia tidak punya tumpang tindih
klaim dengan negara mana pun," katanya.
Di Natuna, Indonesia mempunyai tumpang tindih batas
kontinental dengan Malaysia, namun masalah tersebut sudah diselesaikan dan
dicatatkan ke PBB.
Sementara soal tumpang tindih kawasan ZEE dengan Malaysia
di barat dan Vietnam di utara, saat ini masih dinegosiasikan.
Indonesia dan Malaysia sudah menunjuk utusan khusus untuk
mempercepat proses negosiasi. Sedangkan dengan Vietnam, negosiasi yang sudah
lama berhenti telah dihidupkan kembali dan akhir 2015 akan ada pertemuan lagi.
Indonesia mengajak semua pihak untuk tidak melakukan
aktivitas yang dapat memantik ketegangan di kawasan, kata Menlu.
Senada dengan Retno, Menkopolhukam Luhut Panjaitan
mengatakan bahwa Indonesia mengedepankan dialog dalam mengatasi masalah
tersebut.
"Soal nine-dash line, kami sepakat bahwa kebebasan
pelayaran, code of conduct mengemuka. Namun kita ingin mengedepankan dialog
untuk mengatasi masalah itu," katanya.
Luhut menambahkan bahwa Indonesia telah merencanakan
kerja sama eksplorasi di ladang potensial energi di Natuna, namun rencana itu
ditunda karena harga gas turun. (CSE/AntaraNews)


