"Pesawat latih ini dibutuhkan untuk memperlancar
proses kualifikasi penerbangan TNI AL, yang selanjutnya akan mengawaki pesawat
udara operasional seperti CN 235-200 maupun NC 212-200," kata KSAL
Laksamana Ade dalam sambutannya.
Menurut Ade, pengoperasian pesawat latih Baron G-58
merupakan perwujudan penyiapan personel penerbang sebagai jawaban menghadapi
tantangan dalam mendukung tugas TNI AL untuk mempertahankan dan mengamankan
kedaulatan perairan yurisdiksi nasional.
"Pembinaan kesiapan personel kualifikasi penerbang
membutuhkan sarana latih pesawat udara yang nantinya akan dipersiapakan untuk
mengoperasikan unsur udara dalam operasi laut khususnya pesawat udara jenis
fixedwing," ujarnya.
Baron G-58 dilengkapi dengan kemajuan teknologi pesawat
terkini seperti glasscockpit technology yang terintegrasi dengan engine
instrument, flight instrument, communications, navigation, auto pilot, dan
radar cuaca.
Selain itu Baron G-58 juga memiliki endurence selama lima
jam terbang secara terus menerus dengan kecepatan 180-223 knots (334413 km per
jam) dan memiliki performa mesing penggerak double engine masing-masing 300 HP.
Dua unit pesawat dengan nomor lambung L-230 dan L-231
yang diproduksi oleh Beechcraft USA tersebut dibeli dari dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara 2015 TNI Angkatan Laut senilai Rp 79 miliar. (SRK/Tempo)


