“ Tahun 2015 uang yang masuk ke Jatim dari luar provinsi ( perdagangan antara provinsi ) sebesar 452 trilyun, dan uang keluaran Jatim sebesar 352 trilyun. Sehingga tahun 2015, Jatim surplus sekitar 99,831 trilyun,”
Pernyataan
tersebut disampaikan Gubernur Jatim, Dr.
H. Soekarwo saat menjadi pembicara pada acara Seminar Nasional Kembali ke Pancasila
yang diadakan oleh PWNU Jatim dengan didukung pemprov. Jatim di Hotel mecure
Subata, selasa (1/3).
Dikatakan,
Liberalisasi itu hukumnya effisen tapi hal itu tidak cocok bila hal tersebut
diterapkan di Indonesia. Sebagai contoh nyata yang saat ini sudah terjadi,
yaitu 1 persen penduduk Indonesia telah menguasai 50 persen asset di Indonesia dan hal tersebut merupakan orang
terkaya di dunia yang ke – 3. Untuk itu, jangan menggunakan rumusan liberal
yaitu suara terbanyak yang menang, itu tidak benar dan tidak rasional. Tapi
gunakanlah dasar Musyawarah mufakat, yaitu kebaikan mutlak untuk diikuti.
Menurut
Pakde Karwo, panggilan akrab Gubernur Jatim Sorkarwo, Jatinomic adalah sebagai
solusi keadilan. Mengapa Jatinomic,
karena janomic menggunakan Pancasila sebagai dasar/ pola dalam menjalan
pembangunan daerah. Yang dimaksud
Pancasila disini adalah harus bekerja dalam kesehariannya tidak hanya diam,
karena dengan bekerja maka kita bisa menyelesaikan masalah dan masyarakatlah
yang dapat merasakan hasilnya.
Tahun
2009 lalu, saya dan Gus Ipul mulai memimpin Jawa Timur, dan jumlah kemiskinan
di jatim saat itu sekitar 16,68 % begitu
juga dengan hasil pertanian yang nilainya terus melorot atau turun,
karena para petani langsung menjual setelah panen. Namun, setelah ada
penanganan khusus yakni memberikan pelatihan dan sosialisasi bahawa hasil
pertanian jangan dijual mentah melainkan harus diolah atau djadikan beras dulu
baru dijual, maka tahun 2014 ada peningkatan
hingga 36,57 %. Begitu juga dengan tenaga kerja yang terserap di bidang
pertanian hingga mencapai 30 % dan hasil pertanian yang dijual dalam bentuk
makanan atau setengah jadi sebesar 29, 27 %.
Selain
itu, tambahnya, untuk meningkatkan perekonomian Jawa Timur, pemprov. Jatim telah
menjalin kerjasama dengan provinsi-
provinsi lain yang ada di Indonesia. Hingga
saat ini sudah ada sekitar 26 provinsi yang dijadikan duta atau kantor perwakilan dagang Jatim untuk
pemasaran hasil produk-produk Jawa Timur. Sekaligus kantor perwakilan dagang yang ada di provinsi-
provinsi itu juga menjadi kepanjangan tangan
Jawa Timur untuk mengirimkan
barang- barang asal Jatim ke Negara tetangga. Seperti dari perwakilan kantor
dagang yang di Aceh mengirim barang Jatim ke Malaysia, Singapore dan dari NTB
mengirimkan barang Jatim ke Australia serta dari Kalimantan mengirimkan barang Jatim ke Jepang
dan Eropa.
“
Tahun 2015 uang yang masuk ke Jatim dari luar provinsi ( perdagangan antara provinsi ) sebesar 452
trilyun, dan uang keluaran Jatim sebesar 352 trilyun. Sehingga tahun 2015,
Jatim surplus sekitar 99,831 trilyun,”
jelas Pakde Karwo.
Sebelum
mengakhiri paparannya, Gubernur mengatakan, tahun 2016 ini Jawa Timur akan
membuka ini akan membuka kantor perwakilan
Jawa Timur di Swiss dan Jepang serta Amerika. Dan tahun 2016 ini juga Jatim akan membuka pameran sekaligus
kantor perdagangan di Singapore yang akan digunakan untuk memajang serta
pameran produk- produk Jatim, mulai dari kopiah, kipas hingga produk makanan serta batik yang
menjadi khas Jawa Timur. Sehingga ke depan Jatim lebih dikenal di manca Negara
melalui hasil UMKMnya.
Ditempat
yang sama Ketua PWNU jatim KH. Hasan Mutawakil Alallah mengatakan, pancasila
sebagai pilar Negara dan sebagai dasar Negara, oleh karena itu Pancasila tidak
bisa dan tidak boleh diganti dengan apapun karena Pancasila meruapakan harga
mati. Bila ada keinginan atau gerakan yang akan mengganti pancasila sebagai
dasar dan pilar Negara, maka NU lah yang pertama kali menentang karena NU akan
selalu menjaga Pancasila dan NU akan selalu bersama unsur negera/ stake holder
untuk menjaga keberadaan Pancasila.
Karena
pancasila telah terbukti lebih dari 70 tahun menjadi panutan pemerintah dan Pancasila juga yang telah mengantar
bangsa Indonesia menjadi bangsa multifungsi dan menjadikan bangsa Indonesoia yang
bermartabat. Dan masalah ini juga merupakan amanah dari para ulama yang telah
mendahului kita. Yaitu hubungan islam dengan Pancasila sebagai landasan
perjuangan bangsa Indonesia. Jadi, antara agama atau islam dengan Pancasila
adalah erat hbungannya dan tidak bisa dipisahkan.
Disamping
itu, ulama kita juga terlibat langsung dalam membahas UUD’45 melalui PBHI dan
pancasila meruapaka karya terbesar bangsa Indonesia. Pancasila yang mengajarkan
kita dalam persaudaraan dan bersaudaraan Ukuwah islam. Oleh karena itu,
Pancasila sebagai azas dan dasar Islam dan Agama sebagai aqidah, ( Pancasila
bukan agama tetapi tidak bertentangan dengan agama).
Seminar Nasional sehari Kembali ke Pancasila yang dimotori oleh PWNU ini mendatangkan
empat pembicara baik dari pusat maupun dari jatim sendiri, yakni Gubernur jatim,
Ketua PWNU jatim, KH. Mutawakil Alalh, EEp Saefulloh Fatah dan Prof. Dr. KH A. Said Agil Siradj.
(Adi/Humas pemprov. Jatim)

