Lebih lanjut, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan
agar TNI dan Polri jangan mau di adu domba dan meningkatkan kewaspadaan.
Terutama untuk terus menjaga kesatuan antara aparat negara. Jangan
sampai ada yang merusak hubungan TNI dan Polri. Kalau TNI dan Polri pecah,
maka hancurlah bangsa ini. Tidak ada lagi pilar penyangga keamanan dan
keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada pembekalan yang bertajuk “Memahami ancaman,
menyadari Jati diri Sebagai Modal Membangun Menuju Indonesia Emas”,
Panglima TNI mengingatkan kepada peserta Rakernis Brimob mengenai ancaman yang
sedang dan akan dihadapi bangsa Indonesia, melalui Proxy War. Ancaman
tersebut telah melanda setiap lini kehidupan berbangsa, bernegara bahkan
ditengah kehidupan keluarga.
“Konkrit ancaman tersebut seperti demo anarkis buruh
perusahaan, tawuran pelajar dan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba, memecah
belah TNI-Polri, memecah belah Parpol, rekayasa sosial yang memanfaatkan
media,” jelas Panglima TNI.
“Semua kejadian itu dirancang dan dikendalikan oleh pihak
yang tidak kelihatan dengan memanfaatkan orang dalam, sehingga tanpa disadari
bangsa Indonesia sedang menuju kehancuran,” ujar Panglima TNI Jenderal Gatot
Nurmantyo.
Diakhir pembekalannya, Panglima TNI menyampaikan 5 (lima)
pesan peserta Rakernis Brimob, antara lain: dalam menjalankan amanah diharuskan
menebarkan salam, jalin silaturahmi, saling menasehati, perbanyak kebajikan,
dan cegah segala bentuk kemungkaran.
Rakernis Korps Brimob diikuti 200 peserta antara lain
Dansat Brimobda, Danmen, dan Danyon Brimob dari seluruh Indonesia dilaksanakan
dari tanggal 14 s.d. 16 Maret 2016 di Mako Brimob Kelapa Dua.
Hadir pada Apel tersebut antara lain, Pangkostrad Letjen
TNI Edy Rahmayadi, Aster Panglima TNI Mayjen TNI Wiyarto, Kapuspen TNI
Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Danjen Kopassus Mayjen TNI Herindra, Dankormar
Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, Wadan Korps Paskhasau Marsma TNI Seto Purnomo
dan Dankor Brimob Polri Irjen Pol Murad Ismail. (SRK/Puspen TNI)


