Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo saat memberikan Kuliah Umum dihadapan 490 Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Pertahanan, yang digelar di Aula PMPP TNI, Komplek IPSC, Sentul,
Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/8/2016).
“Teori Maltus mengatakan bahwasanya pertambahan penduduk
meningkat seperti deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan meningkat ibarat
deret hitung. Apabila garis pertambahan penduduk dengan garis ketersediaan
pangan bersinggungan di suatu titik, maka disitulah terjadinya titik kritis,”
jelas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Ini faktanya, menurut penelitian populasi ideal penduduk
dunia sekitar 3-4 milyar untuk dapat hidup dengan layak, realitasnya saat ini
setiap 2,1 detik satu bayi meninggal atau sekitar 15 juta bayi meninggal setiap
tahunnya karena kemiskinan, kelaparan dan kesehatan buruk itu artinya penduduk
dunia sudah overload.
“Bila populasi penduduk tidak bisa diimbangi dengan
ketersediaan pangan, maka akan memicu krisis. Inilah ancaman yang akan
dihadapi penduduk dunia,” ungkap alumni Akmil 1982 yang juga pernah menjabat
sebagai Pangkostrad dan Pangdam V/Brawijaya ini
Panglima TNI juga menjelaskan bahwa, konfik yang terjadi
di Irak, Iran, Libya, Kuwait, Mesir, Suriah, Yaman, Sudan dan Ukraina, semuanya
sebagai negara penghasil energi. “Saya bisa simpulkan bahwa konflik atau perang
di dunia, 70% berlatar belakang energi,” kata pria kelahiran Tegal ini.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Kodiklat
TNI-AD ini memprediksi bahwa, konflik di waktu mendatang dari aspek latar
belakang dan lokasinya akan mengalami perubahan. Hal ini dipicu, karena energi
fosil diprediksi pada 2043 akan habis dan hanya bisa digantikan dengan energi
alternatif (energi hayati) yang bisa hidup sepanjang tahun hanya di wilayah
Ekuator yaitu Amerika Latin, Afrika Tengah dan Asia Tenggara termasuk di
dalamnya Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI menjelaskan bahwa
sekitar 80 % penduduk dunia yang berada di luar Ekuator, kedepan akan
merasakan krisis hebat dan mengalami dua krisis, yaitu krisis energi dan
pangan.
“Pangan awalnya hanya untuk makan, kedepan pangan dibagi
dua untuk makan dan energi, sehingga nantinya penduduk diluar Ekuator akan
berbondong-bondong ke wilayah Ekuator untuk mencari pangan, energi dan air,”
katanya.
Menurut Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, inilah pembuktian
teori pergeseran latar belakang dan tempat konflik. Awalnya konfik
berlatar belakang energi berubah menjadi latar belakang energi, pangan dan air
(ekonomi), tempatnya konflik bergeser dari wilayah Arab Spring ke wilayah
Ekuator termasuk Indonesia. “Ancaman inilah yang harus disadari oleh kita
semua,” katanya menagakhiri. (Noor Irawan/Puspen TNI)



No comments:
Post a Comment