“Banyak orang yang mengatakan bahwa terorisme yang
terjadi di Indonesia bahkan di dunia adalah karena faktor ketidakadilan, maka
hal tersebut adalah bohong karena masalah terorisme sebenarnya berlatar
belakang energi, ISIS sebagai contoh nyatanya,” ujar Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo.
Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan
bahwa, ISIS saat ini bukan lagi ISIS melainkan Islamic State,
karena mereka para teroris ingin membuat satu negara menjadi negara
Islam, namun perekrutanya dari seluruh negara.
“Jadi ISIS sistem perekrutanya itu mencari hal-hal
yang sensitive, dimana kesenjangan sosialnya dan tingkat ketidakadilan sangat
tinggi serta sering terjadi pelecehan agama di negara tersebut, seperti
Indonesia dan Perancis serta beberapa negara lainnya,” imbuh Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo.
Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI mengatakan bahwa,
banyak anak-anak Indonesia yang masih kecil, saat ini berada di
Suriah, dimana mereka diberikan latihan menembak dan latihan militer lainnya
untuk dididik menjadi pasukan ISIS.
“Anak-anak tersebut dicuci otak untuk menjadi teroris
bahkan mereka membakar raport sekolahnya dan apabila nantinya
mereka terdesak di Suriah, maka sesuai doktrin para teroris tersebut akan
kembali ke negara asalnya dan mengadakan perjuangan di wilayahnya
masing-masing,” ungkap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan beberapa
hasil survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian seperti, Wahid
Foundation pada tahun 2016 mengatakan bahwa 7,7% muslim Indonesia bersedia
berpartisipasi dengan teroris, 0,4% pernah berpartisipasi dengan teroris.
Sedangkan Setara institute mengatakan bahwa 35,7% siswa SMA Negeri
Jakarta dan Bandung intoleran pasif, 2,4% intolerar aktif dan 0,3%
berpotensi menjadi teroris.
Hasil survei yang sama juga disampaikan oleh Universitas
Islam Negeri Jakarta pada tahun 2011 bahwa, 26,7% mahasiswa Islam setuju
jihad dengan kekerasan 68,4% tidak setuju. Sedangkan CSRC UIN
Jakarta pada tahun 2008-2009 mengeluarkan hasil survei dimana 45%
Takmir Masjid di Jakarta mewajibkan berdirinya Negara Islam dan 26% jihad
melawan kaum non muslim, dan 32% wajib perjuangkan kilafah, sementara 14% wajib
perangi pemerintah yang tidak melakukan sari'ah.
“Dapat dibayangkan betapa perekrutan teroris
sangat mudah dengan menggunakan media sosial dan teroris Indonesia memiliki
dana yang cukup besar. Dana teroris yang masuk ke Indonesia paling besar dari
Australia bukan negara Australia ya tetapi dari wilayah Australia, Malaysia,
Brunei dan Philipina, dimana teroris yang telah dilatih disiapkan untuk
masuk ke Indonesia,” kata Panglima TNI.
Panglima TNI juga menyampaikan bahwa, sumber dana teroris
yang masuk ke Indonesia melalui yayasan-yayasan sangat besar, namun
kita tidak dapat berbuat apa-apa, karena Undang-Undangnya masih mengatakan
bahwa terorisme adalah tindakan kriminal biasa. “Maka dari itu saya
katakan alangkah bodohnya bangsa ini, kalau masih mendefinisikan teroris adalah
kejahatan kriminal, kalau kejahatan kriminal berarti tindakannya berdasarkan
hukum pidana, padahal itu sudah pembunuhan secara massal, membuat ketakutan
berlebihan, merusak sendi-sendi kehidupan, bahkan merusak kedaulatan negara,
itu adalah kejahatan negara, kita harus berani menyikapi hal itu,” tegas
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. (Puspen TNI)



No comments:
Post a Comment