"Kelompok radikal selama ini hanya mengandalkan 'kulitnya'
saja dan memutarbalikkan maknanya untuk melancarkan propagandanya, bahkan
mengkafirkan orang yang tidak sepaham. Jelas pemahaman secara parsial itu
bahaya karena bisa menimbulkan kelompok radikal lebih besar," ujar Rois
Syuriah PBNU DR. KH. Zakky Mubarak MA di Jakarta, Jumat (23/9/2016).
Sesuai kaidahnya, lanjut Kiai Zakky, agama Islam terutama
ayat-ayat Al Quran dan hadis pemahamannya harus lurus dan tidak seenaknya.
Artinya, ada kaidah yang harus mengarahkan pada kebaikan dan membawa kemaslahatan
pada umat. Karena itu, untuk memahami agama Islam wajib belajar pada ahlinya
yaitu kiai, ulama, ustadz, guru, dan dai. Tapi ahli itu pun harus jelas track
record-nya, dimana pendidikannya dan latar belakangnya.
"Jangan belajar agama dengan membaca sendiri atau
belajar dari teman. Juga jangan hanya kursus atau belajar agama seminggu dua
minggu tapi sudah merasa alim itu bahaya. Agama Islam itu perlu didalami secara
berkesinambungan sehingga agama itu jadi komprehensif dan secara keseluruhan,
tidak parsial," tegas Dewan Pakar Masjid Agung Sunda Kelapa ini.
Kiai Zakky mengaku memiliki pengalaman berdialog dan
berkumpul dengan kelompok radikal untuk memilih dan memilah ayat-ayat Al Quran
dan hadits. Disitu mereka menyampaikan ayat dan hadits yang dianggap
cocok dengan doktrin mereka, tapi yang tidak cocok mereka sembunyikan. Saat
dialog itu, Kiai Zakky memberikan pemahaman yang benar dengan menggunakan
ayat-ayat serta hadits yang ringan agar seimbang. Dari situ, sebagian mereka
bisa berubah.
Selain itu, dari pengalamannya lama membina remaja
masjid, remaja kampus, muslim kampus, Kiai Zakky juga memberikan pemahaman yang
sama beserta penjelasan yang gamblang tentang makna ayat-ayat Al Quran dan
hadits. Dari situ terjadi dialog sehingga mereka mengerti mana yang benar dan
mana yang salah.
"Saya ambil contoh, orang yang tidak salat itu
dianggap kafir. Tapi ada hadits lain yang menegaskan itu bukan kafir non muslim
tapi umat muslim mengingkari salah satu kewajiban islam. Saya jelaskan bahwa
yang membedakan muslim dan kafir itu bukan disitu, tapi dari kalimat syahadat.
Kalau orang bersyahadat itu pasti muslim, tapi kalau tidak bersyahadat itu non
muslim. Kalau urusan ibadah itu urusan dia dengan Allah. Itu menjadi gambaran
bahwa masih banyak orang tidak tahu sehingga banyak yang kepleset," jelas
Imam Besar Masjid Arif Rahman Hakim Universitas Indonesia itu.
Disinilah, lanjut Kiai Zakky, peran ulama sangat penting.
Artinya, ulama harus pro aktif memberikan pemahaman kepada umat, jangan seperti
dulu dimana para ulama lebih banyak tawadhu (rendah hati) dan menunggu orang
bertanya.
"Ulama, guru, ustadz, da'i harus pro aktif untuk
menyelamatkan umat dari serbuan paham yang salah. Sudah bukan masanya ulama
seperti dulu yang lebih banyak menunggu. Satu lagi, disamping berdakwah, ulama
harus menulis melalui website, media sosial, dan media massa," tegas Kiai
Zakky mengakhiri. (Adri Irianto).



No comments:
Post a Comment