”Ancaman datang dari ISIS. Satu-satunya kekuatan yang mampu menolak itu adalah angkatan bersenjata Suriah,"
Moskow (Zonasatu.co.id) - Kremlin akhirnya
mengkonfirmasi bantuan senjata-senjata Rusia yang “terbang” ke Suriah bersamaan
dengan bantuan kemanusiaan. Namun, Rusia menegaskan pasokan senjatanya untuk
rezim Presiden Bashar al-Assad adalah legal, sesuai kontrak bilateral kedua
negara.
Konfirmasi dari Rusia itu disampaikan Menteri Luar
Negerinya, Segei Lavrov, kepada wartawan. ”Pesawat Rusia mengirim peralatan
militer sesuai dengan kontrak dan bantuan kemanusiaan ke Suriah,” kata Lavrov,
seperti dilansir Aljazeera, Jumat (11/9/2015).
Koran Rusia, Kommersant, kemarin melaporkan bahwa Moskow
telah memasok Damaskus dengan kendaraan lapis baja canggih BTR-82A. Pemerintah
Rusia sebelumnya menolak mengkonfirmasi laporan pasokan bantuan militernya
untuk Suriah. Rusia hanya mengkonfirmasi perihal bantuan kemanusiaan.
Jumlah peralatan militer Rusia yang dipasok ke Suriah
antara tahu 2009 hingga 2011 sudah mencapai 71 persen dari kebutuhan militer
Suriah. Hal itu mencakup pesawat-pesawat jet tempur untuk pertahanan udara.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Suriah
sudah kacau akibat ulah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan
pasukan Assad yang bisa diandalkan untuk mengatasi kelompok radikal itu.
”Ancaman datang dari ISIS. Satu-satunya kekuatan yang
mampu menolak itu adalah angkatan bersenjata Suriah," katanya. Untuk
itulah, Rusia tetap mendukung rezim Assad di Suriah.
Putin Dituduh Ingin Caplok Suriah bak Crimea Jilid Dua
Munculnya bantuan militer Rusia di Suriah untuk menolong
sekutunya, rezim Presiden Bashar al-Assad tak hanya membuat negara-negara Barat
panik. Media Amerika Serikat (AS) bahkan membuat laporan yang berlebihan, di
mana Presiden Rusia Vladimir Putin dituduh ingin mencaplok Suriah seperti kisah
pencaplokan Crimea dari Ukraina.
Stasiun televisi Fox News melaporkan, negara “sakit” di
Timur Tengah itu akan segera ditempati oleh “tentara jahat” Putin. Laporan itu
dipicu dugaan pasokan bantuan militer Kremlin untuk rezim Damaskus yang sudah
membuat Pentagon gusar.
Putin secara terbuka berterus terang mendukung Assad.
Namun, Rusia telah berulang kali membantah bahwa pasukannya telah mengambil
bagian dalam perang sipil di Suriah. Tapi, penyiar berita Fox News Shepard
Smith dengan lantang menyebut Putin ingin menyerang negara di Timur Tengah,
bahkan mungkin menjadikannya sebagai wilayah Rusia.
”Ada kehadiran militer Rusia di Suriah, dan itu mulai
terlihat banyak seperti (yang terjadi di) Crimea,” kata Smith. ”Ketika Presiden
Rusia, Vladimir Putin, menginvasi semenanjung Ukraina, dia mengatakan tidak,
dia berbohong tentang hal itu sepanjang waktu, dan kemudian mulai menyebutnya
'ibu pertiwi’ dan sekarang mereka pada dasarnya mengambil alih,” lanjut Smith.
Untuk memperkuat tuduhannya, Smith, meminta pendapat
seorang analis yang merupakan mantan pejabat tinggi AS. ”Ini adalah
perkembangan yang sangat besar, Shepard,” kata Michael Singh, mantan asisten
Colin Powell dan Condoleeza Rice. ”Kami belum melihat pasukan Rusia di Timur
Tengah sejak tahun 1972 ketika mereka diusir oleh Anwar Sadat.”
Sementara itu, Rusia kembali menegaskan bahwa bantuan
militer Kremlin terhadap Damaskus adalah sah, karena sesuai kontrak bilateral.
”Pengiriman ini dilakukan secara penuh sesuai dengan
kontrak bilateral yang ditandatangani dengan Pemerintah Suriah yang sah, karena
itu tidak melanggar dalam hal apapun, termasuk hukum internasional,” kata juru
bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, seperti dikutip Sputnik,
Jumat (11/9/2015). (SRK/SindoNews)


