"Kita membacanya dari kasus besar. Puncak pencopotan Buwas ini terkait dengan kasus Pelindo II. Artinya ada pihak yang terganggu dari kaca mata kasus ini,"
Jakarta (Zonasatu.co.id) - Bareskrim
Mabes Polri tengah mengusut kasus pengadaan mobil crane di Pelabuhan Indonesia
(Pelindo II). Namun tiba-tiba status tersangka Direktur Operasi dan Teknik PT
Pelindo II, FN diralat.
"Saya minta maaf karena dulu dibilang ada tersangka. Jadi belum (ada tersangka) ya," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Anton Charliyan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (11/9).
Anton mengatakan sampai saat ini pengusutan masih berjalan. Dia kemudian meminta maaf kepada publik atas informasi penetapan tersangka itu. Dalam kasus itu, kata dia, hanya ada dugaan potensi untuk menjadi tersangka.
"Bukti sudah lengkap, tapi bila tidak ada kaitan satu sama lain itu bagaimana? Ya, tidak kuat juga kan?" imbuhnya.
Menurutnya, dalam menetapkan tersangka, pihak kepolisian harus memperhatikan banyak hal tidak serta merta langsung menetapkan seseorang jadi tersangka. "Tahapannya itu akan lebih hati-hati," ujarnya.
Sebelumnya, Komjen Budi Waseso yang saat itu menjadi Kabareskrim Polri mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menetapkan tersangka terkait kasus dugaan korupsi yang terjadi di PT Pelindo II.
"Saya minta maaf karena dulu dibilang ada tersangka. Jadi belum (ada tersangka) ya," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Anton Charliyan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (11/9).
Anton mengatakan sampai saat ini pengusutan masih berjalan. Dia kemudian meminta maaf kepada publik atas informasi penetapan tersangka itu. Dalam kasus itu, kata dia, hanya ada dugaan potensi untuk menjadi tersangka.
"Bukti sudah lengkap, tapi bila tidak ada kaitan satu sama lain itu bagaimana? Ya, tidak kuat juga kan?" imbuhnya.
Menurutnya, dalam menetapkan tersangka, pihak kepolisian harus memperhatikan banyak hal tidak serta merta langsung menetapkan seseorang jadi tersangka. "Tahapannya itu akan lebih hati-hati," ujarnya.
Sebelumnya, Komjen Budi Waseso yang saat itu menjadi Kabareskrim Polri mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menetapkan tersangka terkait kasus dugaan korupsi yang terjadi di PT Pelindo II.
Bamsoet Menduga
ada pihak yang 'kebakaran jenggot' saat Pelindo diobok-obok
Bendahara
Umum Golkar kubu Aburizal Bakrie Bambang Soesatyo menuding dimutasinya
Kabareskrim Budi Waseso dari jabatannya diduga ada campur tangan dari Istana.
Menurut dia, hal itu karena Budi Waseso berani membongkar kasus-kasus besar
yang dapat merugikan tatanan dan stabilitas politik yang ada.
"Kita membacanya dari kasus besar. Puncak pencopotan Buwas ini terkait dengan kasus Pelindo II. Artinya ada pihak yang terganggu dari kaca mata kasus ini," ujar Bambang di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9).
Sementara itu, kata Bambang, terkuaknya kasus Palindo II membuat orang yang tergabung dalam manuver politik tersebut menjadi tersengat dan terganggu. "Ada pihak-pihak yang terganggu dan tersengat serta 'kebakaran jenggot' atas kasus ini," kata dia.
Terkait itu, kata Bambang, DPR akan membuat panitia Khusus (Pansus) guna mendorong Kabareskrim yang baru untuk tetap mengusut tuntas kasus peninggalan Buwas tersebut.
"Ke depan komisi III bikin pansus. Kita gabung komisi V, VI dan XI. Sebab ini ada dugaan ada pencucian uang triliunan di sana," pungkas dia. (CSE/Merdeka)
"Kita membacanya dari kasus besar. Puncak pencopotan Buwas ini terkait dengan kasus Pelindo II. Artinya ada pihak yang terganggu dari kaca mata kasus ini," ujar Bambang di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9).
Sementara itu, kata Bambang, terkuaknya kasus Palindo II membuat orang yang tergabung dalam manuver politik tersebut menjadi tersengat dan terganggu. "Ada pihak-pihak yang terganggu dan tersengat serta 'kebakaran jenggot' atas kasus ini," kata dia.
Terkait itu, kata Bambang, DPR akan membuat panitia Khusus (Pansus) guna mendorong Kabareskrim yang baru untuk tetap mengusut tuntas kasus peninggalan Buwas tersebut.
"Ke depan komisi III bikin pansus. Kita gabung komisi V, VI dan XI. Sebab ini ada dugaan ada pencucian uang triliunan di sana," pungkas dia. (CSE/Merdeka)


