“Setiap pemeluk agama itu harus radikal. Tetapi dengan cara mengakar dari perspektif agama”
“Setiap
pemeluk agama itu harus radikal. Tetapi dengan cara mengakar dari perspektif
agama” ungkap Lukman Hakim saat menjadi keynote speech dalam dialog
pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS bertema “Peran Generasi Muda Dalam
Pencegahan Terorisme” di Jogja Expo Center, Rabu (28/10/2015
Sehingga
yang patut untuk diperangi dalam hal mencegah terorisme adalah perilaku ekstrim
dalam memahami radikalisme tersebut. Bukanlah justru radikalisasinya. “Yang
harus diperangi bukanlah pahamnya tapi perilaku ekstrimnya, yang mentolelir
kekerasan untuk memaksakan kehendak,” tegas Luqman.
Dikatakannya,
dalam ajaran Islam, arti jihad itu sendiri sering dipahami dengan cara yang
salah yang sering diartikan untuk melakukan aksi teror.. Padahal sesungguhnya
kata jihad itu mempunyai arti kata yang sangat luas, bukan dalam arti sempit
yaitu dengan cara perang fisik.
“Dalam
Islam kata jihad sering dijadikan justifikasi untuk mendasari seseorang
melakukan kekerasan. Dalam bahasa itu arti Islam adalah salam kedamaian Seperti
dengan cara menuntut ilmu dan membantu sesama yang membutuhkan. Jihad bisa juga
diartikan haji mabrur, berbakti pada orang tua, menyampaikan kebenaran, dan
masih sangat luas lainya. Itu contoh dari pemahaman jihad,” paparnya.
Dirinya
menilai jika selama ini aksi-aksi teror yang terjadi adalah respon atas ketidak
adilan yang dihadapi oleh oknum yang kemudian tidak disikapi dengan kesadaran
untuk menghadapi dengan aturan yang ada. Sehingga ia merespon dengan cara
instan dan cepat dengan menghalalkan cara kekerasan.
“Paham
keagamaan sering menjadi justifikasi. Ajaran yang tidak pas sering dijadikan
landasan untuk mentolelir kekerasan,” ucapnya.
Menurutnya,
tidak hanya dalam agama Islam, namun semua agama mempunyai faham yang
berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman yang telah berjalan. Namun, dalam
hakekatnya, seluruh agama itu mengajarkan kasih sayang, toleransi dan
memanusiakan manusia. “Harus disatukan pemahaman itu, agar tidak yang
memunculkan gesekan-gesekan yang diikuti tindak kekerasan yang tidak memanusiakan
manusia,” tegasnya.
Ia
juga melihat jika penanganan terorisme itu bukanlah hal yang yang bisa
dipandang dalam perkembangan era globalisasi saat ini. Setiap orang dengan
memegang smartphone dapat dengan mudah mengakses informasi baik yang bersifat
positif dan negatif dalam era sekarang ini.
Di
sisi lain dalam dunia maya, masyarakat juga dengan gampangnya menemukan
situs-situs yang mengkafirkan pihak lain yang berbeda, dan memicu pertumpahan
darah atas persoalan yang sebenarnya tidak prinsipil.
“Tidak
tahu motif apa yang ada dalam situs yang menyebar paham radikalisme yang
menjurus pada aksi ekstrim. Untuk itu saya juga sangat mengapresiasi BNPT yang
berkomitmen serius menangani dunia maya,” jelasnya.
Luqman
juga menyambut baik langkah dari BNPT untuk menggandeng Kemenag dalam
penanganan terorisme. Salah satunya adalah dengan penandatanganan MoU
penanganan terorisme. (IH)

