Negara-negara itu adalah Amerika Serikat, Uni Eropa,
Rusia, Arab Saudi, dan beberapa negara Teluk lain, Iran serta Turki. Sebelumnya
negara-negara tersebut telah melakukan pertemuan di Wina untuk segera mencari
solusi dalam menghentikan konflik tersebut, tapi hingga saat ini belum ada
tindak lanjutnya.
Seperti yang dilansir BBC, jalan buntu dari solusi
gencatan senjata adalah kepentingan dua blok terkait dengan Presiden Suriah
Bashar al-Assad.
Assad yang mendapat penolakan dari Turki, Uni Eropa, dan
Arab Saudi, serta Amerika Serikat, di sisi lain mendapat dukungan yang kuat
dari sekutunya, Iran dan Rusia, yang memiliki kepentingan di Suriah.
Bentuk dukungan Rusia berupa dukungan di PBB serta
memasok persenjataan bagi tentara Assad untuk melawan pemberontak yang ingin
menjatuhkanya.
Rusia melakukan itu semua demi menjaga pelabuhan Suriah,
Tartous, yang berfungsi sebagai basis Mediterania Rusia untuk armada Laut
Hitam, dan sebuah pangkalan udara di Latakia.
Sejak September lalu, Suriah telah menurunkan pasukan
serta armada militernya untuk menggempur pemberontak dan juga militan Negara
Islam Irak Suriah (ISIS).
Pesaing utama Rusia, Amerika Serikat telah menyatakan
secara terbuka untuk meminta Assad yang dituduhnya sebagai penyebab utama
kekerasan di negara tersebut untuk mundur.
Amerika Serikat terang-terangan mendukung aliansi oposisi
utama Suriah, Koalisi Nasional, dan memberikan bantuan militer terbatas untuk
pemberontak "moderat".
Sejak September 2014, Amerika Serikat telah melakukan
serangan udara terhadap ISIS dan kelompok jihad lain di Suriah sebagai bagian
dari koalisi internasional terhadap kelompok jihad. Amerika Serikat juga turut
melatih dan mempersenjatai 5.000 pemberontak Suriah.
Kaki tangan Amerika Serikat di Timur Tengah, Arab Saudi,
diketahui telah memberikan bantuan keuangan dan militer untuk beberapa kelompok
pemberontak di Suriah.
Kerajaan Arab Saudi mengatakan Presiden Assad tidak bisa
menjadi bagian dari solusi konflik dan harus menyerahkan kekuasaan kepada
pemerintahan transisi atau dihapus secara paksa.
Satu lagi negara yang membenci Assad adalah Turki. Sejak
awal Ankara telah meminta Assad untuk mundur ketika pemberontakan mulai
bergulir di Suriah.
Presiden Recep Tayyip Erdogan telah mengatakan tidak
mungkin bagi Suriah untuk menerima seorang diktator yang telah menyebabkan
kematian hingga 350 ribu orang.
Turki adalah pendukung utama oposisi Suriah dan telah
menghadapi beban pengungsi hampir dua juta pengungsi.
Turki setuju untuk membiarkan koalisi pimpinan Amerika
Serikat menggunakan pangkalan udara untuk serangan di Suriah, setelah serangan
bom ISIS pada Juli 2015.
Di kubu Assad, ada Iran yang selama ini merupakan sekutu
terdekatnya sebagai sesama Syiah. Iran diketahui selama ini telah cukup banyak
membantu pasukan pemerintah dalam memerangi pemberontak.
Iran dengan negara mayoritas muslim Syiah tersebut
diyakini telah menghabiskan miliaran dolar per tahunnya guna menopang Presiden
Assad dan pemerintah Alawit, dengan menyediakan penasihat militer dan senjata
bersubsidi, serta jalur kredit dan transfer minyak. Suriah adalah tempat
transit utama untuk pengiriman senjata Iran bagi gerakan Syiah Islam Libanon,
Hizbullah. (SRK/Tempo)


