“Saya baca dokumen yang dikirim Kementerian Pertahanan ke
Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Yang sudah ditandatangani
Menhan adalah Sukhoi Su-35,” kata Agus di Jakarta.
Mencari pengganti 16 pesawat F-5E/F Tiger yang
dioperasikan Skuadron Udara 14 yang bermarkas di Pangkalan Udara Iswahjudi,
Magetan, Jawa Timur, memang menjadi salah satu target utama TNI AU saat ini.
Agus mengatakan, sebelum Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu
meneken kesepakatan pengadaan Sukhoi Su-35, TNI AU telah mengirimkan
sepsifikasi teknologi pesawat yang mereka nilai pantas menggantikan F-5 Tiger.
TNI AU menyodorkan dua pesawat tempur sebagai pilihan:
F-16 Viper buatan Lockheed Martin Amerika Serikat, dan Sukhoi Su-35 buatan
Sukhoi Rusia.
"Sebagai pengguna, TNI AU hanya mengirimkan tech
spec pesawat yang kami inginkan untuk memenuhi tugas kami," ujar Agus.
F-16 Viper dan Sukhoi Su-35 disodorkan TNI AU untuk
dipilih karena mereka tak ingin mengubah sistem pemeliharaan secara ekstrem.
"Kalau Sukhoi Su-35 kan sama dengan Sukhoi Su-30 yang sudah kami
operasikan saat ini," kata Agus.
Dari dua pilihan tersebut, TNI AU akhirnya memilih Su-35
yang dikenal dengan sebutan jet tempur siluman karena kecanggihan teknologinya
yang tepat berada di bawah pesawat siluman generasi kelima.
Su-35 dapat menghilang dari radar, dilengkapi peralatan
jamming untuk menurunkan kemampuan radar musuh, dan memiliki kecepatan
supersonik sekitar 1,5 mach atau dua kali kecepatan suara.
Meski demikian, Agus memperkirakan instansinya tak dapat
membeli Su-35 sebanyak 16 unit seperti jumlah F-5 Tiger sebelumnya, karena
menyesuaikan dengan anggaran yang disediakan pemerintah untuk TNI AU.
“Dengan menghitung anggaran yang ada, mungkin beli 12
pesawat Su-35 saja. Tapi saya minta isinya sudah lengkap,” kata Agus.
Saat ini TNI AU mendapat alokasi anggaran US$3,1 miliar
atau sekitar Rp41 triliun untuk modernisasi alat utama sistem senjatanya.
Anggaran itu akan digunakan selama periode 2015-2019. (CSE/CNNIndonesia)


