Pernyataan
itu disampaikan Dankormar selesai mendampingi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksmana
TNI Ade Supandi sebagai Inpektur Upacara perayaan HUT Marinir ke-70 terkait adanya
aksi teror mematikan yang mengguncang Paris dengan korban jiwa lebih dari 129
orang pada Jumat malam 13/11) lalu.
Menurut
pria yang pernah menjadi Direktur Konvensi dan Perekat Hukum pada Deputi III di
Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) ini mengatakan bahwa Korps
Marinir TNI AL memiliki sejumlah langkah antisipasi guna menangkal teror.
“Kami
selalu berlatih menghadapi keadaan-keadaan teror yang sering berubah. Misalnya,
jika teror itu terjadi di stadion olahraga, tempat-tempat ramai dan rawan, dan
sebagainya. Ini operasi gabungan,” kata alumni AAL tahun 1983 ini.
Terkait
dengan akar masalah teror itu, pria yang juga pernah dibesarkan di pasukan elit
Intai Amfibi (Taifib) Marinir ini mengatakan bahwa masalah terorisme ini muncul
dengan dipengaruhi banyak hal. “Itu meliputi banyak hal, namun berpulang pada
ketidakadilan, kemiskinan, penindasan kaum, pemaksaan, pemiskinan, dan hal-hal
seperti itu. Itu dulu selesaikan maka teror bisa dicegah,” kata Buyung
Pria
yang pernah menjabat sebagai Komandan Lantamal XI Merauke ini mengatakan bahwa
Korps Marinir TNI AL juga selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan
penyusupan paham radikalisme di antara personelnya.
Para
anggotanya diminta untuk saling mengingatkan jika ada sesuatu yang menyimpang
dari kelaziman terjadi di antara anggota lainnya. Hal ini, katanya, sudah
menjadi sejenis prosedur tetap pengamanan personel yang selalu ditegaskan di
semua lapisan satuannya.
"Misalnya,
ada yang beda sendiri dalam kencenderungan berseragam, menyendiri dan anti
sosial, sholat dengan cara berbeda, buku bacaannya radikal, dan sebagainya.
Mereka ini kami ingatkan dan kami bimbing agar kembali ke lingkungan yang
sesuai norma keprajuritan Korps Marinir TNI AL," kata pria yang dikenal dia
sebagai Jenderal yang peduli terhadap pelestarian terumbu karang ini.
Teror
dan jaringannya, ujarnya, sebetulnya bisa dicegah secara cukup efektif jika
jaringan intelijen dan pelibatan masyarakat bisa maksimal. Informasi awal
sering diperoleh dari masyarakat.
Seperti
diberitakan dari Paris, dilaporkan pada Minggu pagi, bahwa juru bicara
Kejaksaan Paris, Agnes Thibault-Lecuivre, menyatakan, delapan ekstrimis tewas
sesudah serbuan mereka itu, tujuh di antaranya pelaku bom bunuh diri.

