Peningkatan kekuatan militer ini dilakukan seiring dengan
ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Laut China Selatan (LCS) yang
menjadi wilayah sengketa. Vietnam berharap langkah itu dapat menjadi deterrence
yang membuat China berpikir dua kali untuk melakukan aksi-aksinya di wilayah
itu.
“Kami tidak menginginkan konflik dengan China, dan kami
harus yakin pada kebijakan diplomasi kami. Tapi kami tahu bahwa kami harus siap
untuk kemungkinan terburuk,” kata salah seorang pejabat senior Pemerintah
Vietnam, sebagaimana dilansir, Reuters, Kamis (17/12/2015).
Strategi Vietnam dalam memandang ketegangan di LCS
tampaknya lebih serius dari sekedar rencana persiapan. Vietnam dilaporkan telah
menyiagakan kekuatan-kekuatan militer vitalnya, termasuk pasukan elit Divisi
308-nya.
Vietnam juga dikabarkan telah melakukan pembelian
alutsista canggih dari Rusia, termasuk di antaranya enam unit kapal selam kelas
Kilo dan berencana untuk membeli jet tempur dan pengebom. Kapal selam pertama
yang didatangkan telah beroperasi dan berpatroli di daerah perairan strategis.
Selain itu, Vietnam juga tengah melakukan pembicaraan
dengan produsen senjata di Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk membeli pesawat
pengintai dan drone untuk mengawasi perairan mereka.
Pembangunan infrastruktur sipil dan militer yang
dilakukan China di LCS sejak pertengahan tahun ini semakin meningkatkan
ketegangan antara Beijing dan Hanoi. Kedua negara yang berseteru dalam klaim
Kepulauan Spratly dan Paracel di LCS dikhawatirkan akan kembali terlibat dalam
seperti yang terjadi pada 1979 silam. (SRK/Okezone)


