Sampai saat ini, lanjutnya, Indonesia belum memberikan
komitmen apalagi dukungan terhadap Aliansi Militer Negara-Negara Islam yang
diklaim oleh Arab Saudi.
Menurut Arrmanatha, Indonesia memiliki rambu-rambu
tersendiri dalam kerjasama internasional, termasuk hanya terlibat kegiatan
militer internasional di bawah PBB.
Terkait dengan upaya memerangi terorisme, Arrmanatha
menegaskan, Indonesia sudah berpengalaman dalam menangani ekstrimisme dan
terorisme, baik lewat soft atau hard power.
Misalnya, Indonesia memiliki Jakarta Centre for Law
Enforcement Cooperation (JCLEC) yang didirikan atas inisiatif Pemerintah
Indonesia dan Australia dengan fokus menangani kontraterorisme dan isu-isu
keamanan.
“Sesuatu akan kita pertimbangkan setelah melihat isinya
apa. Kalau saya mau mempertimbangkan untuk mendekati atau menikah dengan
seseorang, kalau belum kenal mana mungkin saya pertimbangkan? Sama halnya
dengan ini (aliansi militer Saudi),” kata Arrmanatha yang akrab disapa Tata.
Dia menambahkan, Indonesia tidak akan mempertanyakan
inisiatif Arab Saudi tersebut dan menghargai hal itu sebagai hak Arab Saudi,
namun tidak mudah bagi Indonesia untuk terlibat.
"Itu suatu inisiatif yang dilakukan oleh mereka
(Saudi), hak mereka. Mereka ajak kita, undang kita, tentu kita tertarik, kita
mau melihat modalitasnya," ujar Tata, di Jakarta, Rabu (16/12). (CSE/Beritasatu)


