Salah satunya adalah cerita Komandan Nanggala
V/Kopasandha Letkol Inf Soegito. Soegito dan pasukannya ditugaskan untuk merebut
tiga sasaran penting: Bandara Dilli, pelabuhan dan pusat pemerintahan.
Pasukan Kopasandha (kini Kopassus) dilengkap dengan
parasut utama T-10 dan senapan serbu AK-47. Setiap orang menerima 750 butir
peluru kaliber 7,62 mm. Mereka juga membawa dua buah granat, ransum tempur
untuk tiga hari. Para personel juga membawa ransel berisi baju loreng, baju
kaos, sepatu lapangan dan topi rimba.
Letkol Soegito membawa senapan AK-47 dengan popor lipat.
Dia sempat ditawari untuk membawa Uzi, namun ditolak. Alasannya Soegito tak
familiar dengan senjata buatan Israel itu.
"Karena perokok berat, Soegito memilih meninggalkan
100 butir peluru dan menggantinya dengan empat slof rokok Gudang Garam!"
demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas
Udara di Dilli, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo.
Dalam buku terbitan Kata Penerbit ini dituliskan
Kopasandha merupakan pasukan Stoottroepen atau pasukan pemukul yang hanya
bertugas merebut sejumlah sasaran penting. Karena itu tak ada bantuan senjata
berat. Setiap regu hanya dilengkapi senapan mesin dan mortir untuk bantuan
tembakan.
Lalu bagaimana kalau ternyata pertempuran di Dilli
berlangsung lebih dari tiga hari?
Mayjen Benny Moerdani hanya berucap dengan dingin.
"Makanan, air, senjata dan peluru ada pada musuh. Rebut dari mereka!"
Pagi hari 7 Desember 1975, pasukan Nanggala diterjunkan
di atas Dilli. Sejak terjun mereka sudah ditembaki dari bawah. Lewat
pertempuran sengit, kota Dilli jatuh ke tangan pasukan Indonesia. Namun 19 prajurit
terbaik Korps Baret Merah itu gugur dalam tembak menembak. (CSE/Merdeka)


