Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim
Indonesia (ICMI) Prof Dr. Jimly Asshiddqie,SH, saat menerima kunjungan Kepala
BNPT Komjen Pol Drs. Suhardi Alius, MH di kantor pusat ICMI, Jl. Proklamasi
No.53, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (2/9/2016).
“Kita membicarakan fonomena yang terjadi di dunia kampus
kita. Jadi sekarang ini radikalisme sudah berkembang, bukan hanya di tingkat
grassroot saja seperti
dikalangan orang miskin, terbelakang dan sebagainya yang selama ini
diasumsikan, tetapi sekarang ini sudah melibatkan orang-orang yang
berpendidikan tinggi,” ujar Jimly
Asshiddqie,
Menurut Jimly, sekarang ini sudah banyak orang yang
bergelar Doktor, Profesor sudah terpengaruh paham radikal terorisme. Dirinya
mencontohkan seorang dokter yang di Kalimantan beberapa waktu lalu yang diduga
bergabung dengan kelompok radikal. “Jadi metode brainwash yang dilakukan kelompok
teroris ini ternyata efektif, dan itu merebak kemana-mana,” ujarnya.
Bahkan di kampus sekarang ini menurutnya sudah mulai
kemasukan seperti dengan gerakan dengan mengataskanaman pengajian mahasiswa,
pengajian dosen. “Baru sebulan ngaji celananya sudah cingkrang, dalam artian
cingkrang yang ektrim bagi mereka sudah terpapar radikalisme, ini yang sangat
dikhawatirkan. Jadi inilah
yang kita bahas,” ujarnya.
Dikatakannya, pihaknya juga sampai terkaget-kaget dengan
data-data yang dibawa Kepala BNPT. Pihaknya selama ini sebenarnya sudah tahu
ada gelombang yang harus diatasi di lingkungan perguruan tinggi ternyata ini
lebih gawat lagi.
“Bukan hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di
lingkungan sekolah. Bahkan di anak-anak jenjang Sekolah Dasar pun sudah mulai
terpengaruh Media Sosial ini sudah sangat membahayakan,” kata pria yang pernah
menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi ini menjelaskan
Oleh karena itu ICMI menurutnya, tidak hanya berpikir tentang
kelas kaum intelektuail atau para sarjana di kampus. Tetapi kita juga punya
program untuk anak SMA. Intinya ICMI bersepakat dengan BNPT untuk melakukan
partnership. Dan BNPT
sendiri sudah melakukan dengan semua kalangan.
“Kita mengpresiasi dengan apa yang sudah dilakukan BNPT
dengan memperluas parnership dengan kesadaran bahwa mengatasi radikal terorisme
tidak bisa sendirian. Kita mesti bareng-bareng. Karena peradaban Indonesia yang
sudah maju ini tidak bisa ditopang dengan unsur kekerasan,” katanya.
Dan ICMI menyadari bahwa masalah ini adalah masalah yang
sangat serius, harus bersama-sama dengan kekuatan islam moderat dan semua
kekuatan moderat kebangsaan untuk mendukung upaya ini, bukan hanya mendukung
BNPT, tetapi ini membantu Indonesia supaya maju.
“Kita tidak bisa maju kalau memelihara kekerasan. Budaya
kekerasan yang selama ini ada ya harus dihilangkan dari budaya kerja Indonesia.
Untuk itu ICMI akan membantu BNPT dalam mengatasi radikalisme terorisme dengan
menggerakkan roda deradikalisasi dan kontra radikalisasi,” katanya mengakhiri.
Dalam pertemuan tersebut Ketua ICM didamping pengurus
seperti Wakil Ketua Umum
ICMI Drs, Priyo Budi Santoso, MAP, DR. Sri Astuti Buchori, M.Si dan Sekjen ICMI
DR. Ir. Muhammad Jafar Hafsah. Sementara.Kepala BNPT didampingi Deputi I BNPT
bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi, Mayjen TNI Abdul Rahman
Kadir dan Direktur Pencegahan Brigjen Pol. Drs. Hamidin. (Adri Irianto)


No comments:
Post a Comment