Dalam sambutannya, Kepala BNPT mengapresiasi keberadaan
pesantren ini, dan secara khusus kepada ust. Khoirul Gazali yang telah
menginisiasi pendekatan deradikalisasi melalui pendidikan pesantren.
“Sentuhan penanggulangan terorisme tidak cukup dengan
kekerasan, tetapi harus dengan pendekatan lunak dalam bingkai kemanusiaan yang
salah satunya melalui pendidikan dan pembinaan” ungkapnya.
Kepala BNPT juga menjelaskan bahwa pesantren ini akan
dijadikan role model bagi proses pendekatan baru dalam deradikalisasi.
Harapannya di beberapa daerah akan dibangun pesantren sama yang dapat membina
anak dan keluarga mantan teroris sehingga dapat mereduksi penyebaran paham
radikal terorisme.
Suhardi mengharapkan bantuan seluruh pihak dalam
merealisasikan pembangunan masjid di area pesantren tersebut. Dalam acara
tersebut diserahkan pula secara simbolis hewan kurban dan hibah al-quran dari
BNPT kepada pesantren.
Sementara itu mantan teroris Khiorul Gazali, sekaligus
Pengasuh Pesantren Darusy Syifa mengatakan bahwa pendidikan di pesantren
merupakan cara efektif dalam memutus mata rantai terorisme. Gazali menjelaskan
bahwa pesantren ini dibangun berdasarkan keperihatinan atas kondisi anak dan
keluarga narapidana terorisme dan mantan teroris yang kurang mendapatkan
perhatian.
Kondisi demikian akan membangkitkan rasa dendam baru bagi
anak teroris jika tidak didekati dengan pendekatan lunak melalui pendidikan.
Karena dalam doktrin mereka dikenal biirul walidain (berbakti kepada orang tua)
yang berarti berbakti dengan dengan cara menebus kematian dan perlakukan aparat
terhadap orang tua mereka.
Lebih lanjut, Gazali menjelaskan bahwa pendidikan seperti
pesantren ini akan memutus mata rantai dendam generasi terorisme. Inilah
sebenarnya inti program deradikalisasi yang harus dilakukan oleh BNPT.
Penyebaran paham dan dendam terorisme akan dihentikan apabila banyak ditemukan
pesantren seperti ini yang dapat menampung anak-anak dan keluarga mantan
teroris.
Sebagaimana diketahui Pesantren Darusy Syifa ini
merupakan pesantren yang selama ini menampung anak dan keluarga narapidana
terorisme, mantan teroris dan mereka yang sudah terpapar paham radikal. Saat
ini jumlah santri yang menempuh pendidikan di pesantren ini berjumlah 20 orang.
Di dalam pesantren ini tidak hanya diajarkan pendidikan
keagamaan, tetapi juga keterampilan dan pendidikan skill bagi para santri. Di
area pesantren ini terdapat kolam ikan dan persawahan yang digunakan para
santri untuk belajar kewirausahaan. Dalam perencanaan pembangunan mendatang
akan dibangun pula sekolah menengah pertama dan sekolah kejuruan.
Turut hadir dalam peresmian ini antara lain Kapolri yang
diwakili oleh mantan Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT Brigjen Pol Drs. Rudy
Suprihadi yang saat ini menjabat Kapolda Sulawesi Tengah yang juga Penanggung
Jawab Komando Operasi Tinombala 2016, Direktur Pelindungan BNPT Brigjen Pol
Drs. Herwan Chaidir, Anggota Komisi III, HR. Muhammad Syafii dan perwakilan
Forkopinda Sumatera Utara. (Kumala Dewi)



No comments:
Post a Comment