Hal tersebut dikatakan Kepala BNPT saat menjadi
narasumber di acara Sarasehan Nasional Empat Pilar MPR RI dan Kesadaran Bela
Negara yang digelar di Gedung Nusantara V, MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin
(5/9/2016).
Apalagi menurutnya di era globalisasi dan teknologi
informasi yang sudah begitu canggih dan tidak ada lagi batas, semua informasi
bisa masuk dari segala penjuru. “Perubahan ini sungguh luar biasa baik
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya sudah tidak ada batasnya lagi,” kata
Kepala BNPT.
Saat dirinya masih menjabat Sekertaris Utama Lembaga
Ketahanan Nasional (Sestama Lemhanas), dirinya mengetahui bagaimana pemetaan
kondisi perubahan sosial yang ada di seluruh dunia termasuk di Indonesia
sendiri.
“Katanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah,
penuh senyum, gotong royong, menghargai orang tua dan sebagainya yang bersifat
santun. Pertanyaan saya apakah masih ada budaya seperti di negara kita?
Sekarang ini sudah berubah sosial budaya yang dimiliki bangsa kita ini,” ujar
mantan Kabareskrim Polri dan Kapolda Jawa Barat ini.
Menurutnya, sebagian besar anak muda Indonesia sekarang
sudah melupakan sejarah bangsanya. Bahkan sudah banyak anak muda atau pelajar
di negeri ini yang sudah tidak hafal lagi nama pahlawannya.
“Bahkan adat istiadat di daerahnya mereka juga sudah
banyak yang tidak tahu. Ini kan masalah kebangsaan dan ini yang harus kita
waspadai di tengah era globalisasi ini. Karena kalau kita tidak menjaganya
lama-lama nasionalisme kita akan luntur,” ujar Alumni Akpol 1985 ini.
Bela Negara sendiri menurutnya sudah menjadi komitmen
pemuda Indonesia sejak Sumpah Pemuda dideklarasikan pada tahun 1928, bahwa 17
tahun sebelum Indonesia merdeka para anak muda bangsa dari berbagai pulau yang ada
di Indonesia dengan berbagai etnis budaya dan agama ini sudah berani
mempresentasikan dengan nama young Java, young Sumatera,
dan sebagainya.
“Berani dia berikrar dengan mengucapkan
Bertumpah Darah yang Satu, Tanah Indonesia, Berbangsa Yang Satu, Bangsa
Indonesia dan Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Artinya
kemajemukan pada saat itu adalah nilai universal yang diakui di negeri ini dan
17 tahun kemudian pada tahun 1945 baru bangsa ini memproklamirkan
kemerdekaannya,” pria yang pernah menjabat Kepala Divisi Humas Polri ini.
Oleh karena itu menurut mantan Kapolres Metro Jakarta
Barat dan Depok ini, tinggal sekarang bagaimana eksistensi itu menjadi
tantangan untuk dipertahankan dan dilestarikan di tengah era globalisasi yang
saat ini terus berkembang.Sehingga generasi muda kita mampu merawat
bangsa ini dengan kemajemukannya
“Karena di tengah reduksi nasionalisme bangsa itu yang
terjadi saat ini adalah masuknya paham-paham yang bermacam-macam, termasuk
paham radikal. Ini yang tidak boleh terjadi. Perubahan perubahan nilai sosial
ini jangan sampai dibawa menjadi tidak baik,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan bahwa 4 pilar kebangsaan yakni
Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika itu sangat penting karena itu
pondasi bangsa ini yang dapat menyatukan bangsa Indonesia ini. Karena 4 pilar
itu adalah komietmen bangsa Indonesia yang harus dijaga
“Kalau misalnya salah satu dari 4 pilar itu misalnya NKRI
itu lepas lalu kemana yang namanya dari Sabang sampai Merauke itu? Indonesia
yang punya sebanyak 17.504 pulau itu kemana? Keberagaman budaya itu kemana?,”
katanya bertanya.
Sekarang ini saja menurutnya, generasi muda bangsa yang
mempertahankan adat istiadatnya saja bisa dihitung. “Yang masih bisa menjaga
adat istiadat itu kebanyakan di daerah wisata karena itu merupakan bagian
suguhan kepada wisatawan. Yang lainnya sudah banyak yang hilang,” ujarnya.
Untuk itu kembali kepada bidang tugasnya sebagai Kepala
BNPT, dirinya meminta seluruh komponen bangsa berusaha untuk menjaga agar
sel-sel radikalisme itu jangan bergerak terus untuk mempengaruhi dan mencuci
otak anak-anak kita dengan paham-paham yang radikal
“Karena kalau tidak dijaga bisa dapat merusak 4 pilar itu
tadi. Itu dia yang dimaksud dengan korelasi bela negara yang penting ini. Artinya
ada kemampuan dari kita untuk memfilter semua nilai-nilai itu. Yang baik kita
ambil, yang buruk kita tinggalkan,” ujarnya mengakhiri. (Adri Irianto)


No comments:
Post a Comment