Dalam paparannya yang bertema “Meningkatkan Kewaspadaan
Guna Mengantisipasi Radikalisme dan Terorisme”, Kepala BNPT meyakini jaringan
teroris di Indonesia masih ada dan terus berkembang. Untuk itu, masyarakat
wajib mewaspadai keberadaan teroris serta gerak-geriknya.
“Gerakan teroris ini sekarang beraksi dalam kelompok
kecil. Masyarakat harus terus waspada. Apalagi saat ini menjadikan seseorang
sebagai pelaku teror tidak perlu lagi harus mengenyam pendidikan militer di
Afghanistan atau di tempat lainnya, seperti yang dilakukan kelompok teror yang
dulu,” ujar Kepala BNPT.
Pria yang pernah menjabat sebagai Kabareskrim Mabes Polri
dan Kapolda Jawa Barat ini mengatakan bahwa dengan perkembangan teknologi informasi
yang begitu cepat, saat ini generasi teroris baru cukup diasah dengan
perjumpaan yang intensif melalui media sosial dengan memanfaatkan internet.
“Apalagi sekarang ini kalau mau membaiat seseorang cukup
melalui chatting saja. Seperti yang terjadi di Medan kemarin. Pelaku cukup
dicuci otaknya melalui dunia maya, tidak perlu harus datang ke yang membaiat
sambil di doktrin-doktrin deskruktif yang dibungkus dengan militansi
keagamaan,” kata mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan dan Depok ini.
Media-media sosial seperti facebook, twitter, youtube dan
sebagainya menjadi sarana yang paling efektif digunakan oleh kelompok radikal
dalam melakukan penyerabaran pahamnya. “Salah satu contoh yang percobaan
peledakan bom di gereja dan menyerang pendeta, pelakunya banyak belajar dari
chatting melalui media sosial,” tuturnya.
Oleh karena itu, Jenderal kelahiran Jakarta, 10 Mei 1962
berpangkat bintang tiga yang dalam karir Polisinya banyak dihabiskan di korps
Reserse ini juga meminta peranan orang tua dan keluarga menjadi sangat penting
sekali agar anak-anaknya tidak mudah terpapar paham radikal terorisme.
“Disini peran keluarga itu sangat penting. Orang tua
harus sudah mulai bisa mendeteksi sejak dini jika melihat anaknya sudah mulai
sering menyendiri, tidak mau lagi berkumpul bersama teman-teman yang biasanya
bermain bersama, atau kadang sudah sering menyendiri di kamar apalagi kalau
sudah pegang gadget. Itu harus diwaspadai,” ujar Alumni Akpol 1985 ini.
Selain itu menurut Kepala BNPT, terorisme yang berkembang
di Indonesia ini juga dipengaruhi oleh sejarah masa lalu yang mengatasnakan
agama seperti kelompok DI/TII, NII. “Bahkan ada survey di kalangan pesantren di
Jakarta dimana 25 persen setuju dengan adanya Negara Islam. Ini yang patut
diwaspadai bersama,” kata mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri
ini. (Adri Irinto)


No comments:
Post a Comment