![]() |
| Tampak sejumlah pejabat daerah dan TNI menyaksikan prosesi pengukuhan pengurus Ormas Gerakan Bela Negara (GBN) DIY di Titik Nol Monumen Serangan Oemoem Satu Maret, Yogyakarta. |
Seperti yang tertulis di press realase, Organisasi GBN ini
dibentuk oleh masyarakat DIY sebagai salah satu wujud sikap dan perilaku warga
negara yang dijiwai atas kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu juga untuk
menjamin kelangsungan hidup WNI dalam berbangsa dan bernegara. Khususnya dalam mengamankan
ideologi negara yakni Pancasila dan NKRI dari ancaman ideologi komunis dan
ideologi non Pancasila lainnya.
Dalam press realase juga diceritakan tentang bagaimana
perkembangan ideologi komunis dari masa ke masa yang mana saat itu negara
Indonesia telah mengalami beberapa kali fase pemberontakan Komunisme sejak
zaman penjajahan Belanda tahun 1926, Peristiwa Tiga Daerah tahun 1945,
Pemberontakan Cirebon tahun 1946 serta Peristiwa Madiun tahun 1948 dan terakhir
pada era pemerintahan Soekarno (1965). Pada pemberontakan G30S PKI 1965 tidak
sedikit rakyat Indonesia yang menjadi korban keganasan PKI sehingga menimbulkan
rasa traumatik yang luar biasa.
Namun, sejarah dan dinamika sosial politik Indonesia
terus berubah, dan PKI (Partai Komunis Indonesia) telah dibubarkan melalui
supersemar (surat perintah 11 maret) dan dikuatkan pula oleh Ketetapan MPRS no
25/1966 dan lebih dikuatkan lagi dengan UU no 27 Tahun 1999. Akan tetapi bagi para
penggiat Komunisme, PKI tidak pernah mati dan tidak pernah pula bubarkan oleh
para pendirinya. Sebagaimana pesan DN Aidit, Sudisman serta para tokoh PKI yang
lain.
Berbagai gejala kebangkitan PKI bisa dilihat dari maraknya
atribut dengan lambang PKI di berbagai wilayah Indonesia, buku-buku yang
mengajarkan komunisme, simposium nasional yang membela PKI, Festival Sastra
yang menyanyikan lagu genjer-genjer dan membela PKI, serta munculnya petisi
penghancuran monument Pancasila Sakti Lubang Buaya yang dipimpin oleh Shinta
Miranda (anak tokoh Gerwani PKI) di Taman Ismail Marzuki pada awal Mei 2016
lalu.
Kondisi yang demikian membuat warga DIY khususnya yang
tergabung dalam Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) khawatir dan meningkatkan
kewaspadaan, sehingga meleburkan diri dengan GBN sebuah organisasi massa yang
berpusat di Jakarta.
FAKI sendiri di Yogyakarta, merupakan komunitas aktifis
anti Komunis yang terdiri dari para relawan yang memiliki kesamaan visi untuk
membendung bangkitnya ideologi komunis di wilayah DIY. FAKI juga kerap
menggalang gelar pasukan dan pawai massa akbar anti komunis, untuk mengingatkan
masyarakat tentang Bahaya PKI pada perayaan hari peringatan Pemberontakan
G30S/PKI, setiap tahun.
Kini FAKI yang sudah meleburkan diri menjadi GBN melihat
perkembangan situasi dan kondisi sosial masyarakat saat ini sudah mulai masuk
taraf mengkhawatirkan dimana para aktifis Komunis yang sudah tidak lagi berbaju
PKI diketahui telah masuk dan menyusup ke dalam lini kehidupan masyarakat
Indonesia secara luas.
“Mereka ada di DPR RI (Pusat), di DPRD Provinsi Kabupaten
dan Kota. Beberapa diantara yang terindikasi Komunis itu menjadi pejabat
publik; ada yang menjadi Gubernur, Bupati, Walikota dan lain-lain.” Seperti yang
tertulis dalam press realasenya.
Mereka juga mencurigai hilangnya Film Tragedi G30S/PKI dari
peredaran dan munculnya Film-film seperti Gadis berkalung Sorban, Senyap,
Jagal, dan Pulau Buru Tanah Air Beta yang kental sekali aroma kirinya/Komunis
merupakan cara PKI membalikkan fakta sekaligus mem-brainwash wawasan generasi muda tentang sejarah kelam yang terjadi di
tahun 65.



No comments:
Post a Comment